Ada apa dengan Telkom Indonesia?

Wednesday, October 28, 2009
By admin

new-telkom-logoAda apa dengan Telkom? Nggak ada apa-apa dink . Hanya saja, sejak kemarin saya  tertarik melihat logo Telkom Indonesia yang baru. Konon, harga pembuatannya mencapai 3,2 milyar rupiah.

Pembuatnya adalah Brand Union, sebuah agensi merek terkenal dimana 500 karyawannya tersebar di seluruh duni untuk menggarap Brand Identity perusahaan-perusahaan ternama. Klien-kliennya antara lain,  American Express, Absolut and Bank of America, SAB Miller, Masterfoods, Unilever, Motorola, Diageo, Credit Suisse, Corus, Deloittem, Vodafone. Di websitenya, saat ini Brand Union menggarap merek Berna dan De Beers.

3,2 milyar itu  memang bukan sekedar harga membuat logo seperti layaknya kita pesan logo untuk website pada desain grafis freelance. Tapi sudah mencakup penciptaan identitas baru. Hal ini diungkapkan oleh Rinaldi , Dirut Telkom Indonesia kepada detik.com.

“Dana sebanyak itu tidak kami habiskan untuk sekadar mengganti logo, tapi juga untuk menciptakan identitas merek baru dan mengganti semua logo lama di plasa Telkom,” jelas Rinaldi seperti dikutip dalam keterangannya, Senin (26/10/2009).

Telkom memang nampaknya berupaya cepat-cepat merebut posisi baru di era New Wave Communications ini. Sasarannya adalah  adalah positioning sebagai penyedia layanan konvergen dimana fokus utamanya nampaknya diarahkan pada penggunaan perangkat mobile. Kelak perangkat mobil akan menjadi perangkat utama komunikasi dan publikasi orang per orang. Ini bukan ramalan, tapi suatu fakta yang menarik perhatian banyak orang belakangan ini. Dengan posisi baru ini, nanti Telkom akan memperkenalkan positioning dengan moto “life confident ‘ dan tagline ‘The World in Your Hand’.

Diusianya yangke-153 tahun ini, Telkom Indonesia memang nampak semakin agresif. Saking agresifnya, menurut kabar terbaru, Terkom sedang mencari-cari utangan baru. telkom Indonesia memang sudah lumayan tua, dulu seingat saya namanya disebut PTT (Pos, telegrap, dan Telepon). Kemudian ganti nama menjadi Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi (tahun 1961). Tahun 1965 pecah menjadi Perusahaan Negara Pos dan Giro (PN Pos & Giro), dan Perusahaan Negara Telekomunikasi (PN Telekomunikasi). Setelah itu, tahun 1974 namanya diubah menjadi Perumtel (Perusahaan Umum Telekomunikasi) yang menyelenggarakan jasa telekomunikasi nasional maupun internasional. Tahun 1991, Perumtel menjadi PT Telekomunikasi Indonesia. Logonya yang waktu itu nampak kuno digani dengan logo bulatan dengan kelebatan biru. Harga logo itu pun kalau tidak salah 1,5 milyar-an juga. Hanya saja , saya dengar kisikan, yang menggarap dari perusahaan lokal.

Logo_Telkom_Indonesia_g2

Waktu itu zamannya almarhum Pak Cacuk Sudarjanto, mantan orang paling top di Indosat yang kemudian emnjadi Dirut Telkom. Ia menggebrak Perumtel dengan berbagai programnya yang progresif termasuk mendirikan D3 STT Telkom. Beliau suka nongkrong di depan pintu kantor Telkom Gasibu Bandung mengamati karyawannya yang suka kesiangan. Masa itu saya ingat betul soalnya almarhum Ibu saya terakhir dari Cirebon ditempatkan di PT Telkom Bandung sampai beliau pensiun di tahun 1993. Gini-gini gw memang tahu banyak soalnya termasuk keluarga Telkom. Bahkan dulu di awal tahun 90-an itu ikut lomba karya tulis Telkom dan menang hehehehe…lumayan jadi juara 3 dengan tulisan yang menyoal adaptabilitas PT Telkom di era globalisasi.

Dengan cepat, kini Telkom telah menjadi penguasa Infokom yang sebenarnya karena kesiapan SDM yang mulai intensif dibina di awal tahun 90-an. Tentus aja, secara natural Telkom menguasai sarana dan prasarana telekomunikasi di seluruh wilayah Indonesia. Di zaman sebelum 90-an, ukuran keberhasilan telkom adalah berapa banyak sambungan telpon tiap tahu.  Di zaman internet, nampaknya tidak banyak berubah, meskipun penggunaan sarana telekomunikaso dengan cepat berbeda dengan waktu sebelumnya. Apalagi dengan adanya kemajuan revolusioner di bidang telepon genggam. Jadi, wajar saja kalau Telkom harus benar-benar adaptif, lincah dan sigap meskipun ukurannya termasuk kelas dinosaurus.

Transformasi usaha Telkom sudah dilakukan sejak internet mulai dikenal publik Indonesia di pertengahan 90-an. Kala itu, Telkom dan Kantor Pos dengan Wasantaranya nampak kedodoran. Yang banyak berkiprah di bisnis Internet pada awalnya sebenarnya justru kalangan swasta. Meskipun modalnya kecil-kecilan dan pas bengeut. Namun, kini Telkom Indonesia menguasai aspek-aspek penting era dijital dari hulu ke hilir dengan berbagai anak perusahaannya yang bergerak di bidang akses internet mislanya Telkom Speedy, layanan CDMA Telkom Flexi, dll.

Banyaknya jenis jasa yang berhubungan dengan isi maupun akses, serta infrastrukturnya memang akan membuat Telkom kesulitan. Karena itu, strategi mereknya selalu akan menyertakan Telkom sebagai main brand. Bisa dikatakan bahwa saat ini, dengan kata depan Telkom di suatu nama produk atau jasa, maka strategi mereknya masih bertumpu pada corporate dominance.

Apakah cara demikian masih berlaku di masa depan? Nampaknya untuk Indonesia masih layak digunakan karena sejauh ini Telkom toh masih merupakan brand dominant. Namun, bisa jadi cara ini sudah mulai tidak efektif karena berbagai produk dan jasa baru timbul dan tenggelam dengan cepat. Kombinasi konservatisme dan inovasi serta kelincahan dan kecepatan nampaknya menjadi sasaran utama Telkom ketika positioning baru mulai dilakukan. Bagaimana Brand Telkom berkembang selama era internet ini?

Jalan-jalan di Internet untuk mencari informasi Telkom dan strategi branding-nya membawa saya mengunjungi perpustakaan ITB. Meskipun cuma abstrak, tapi lumayan juga untuk mengetahui skema branding Telkom satu dasawarsa sebelumnya. Berikut ini gambaran Brand Architecture produk Telkom yang sudah kita kenal.

telkom1

Tapi kali ini ada geliat gelombang baru bagaimana konvergensi menciptakan divergensi dan komunikasi keluar dan kembali melalui dinamika individual, kelompok, dan baru kemudian perusahaan menungganginya atau memanfaatkannya. Jadi, ada yang terbalik. Influencer di era dijital dengan New Wave Communications yang disokong oleh Google dan Yahoo, penyedia alat seperti IPhone dan Blackberry, serta jejaring sosial lainnya akan mempu mengubah paradigma komunikasi.

Karena itu pula nampaknya Telkom  lebih serius mengantisipasinya dengan tidak tanggung-tanggung mengubah Brand Identity yang nampak lebih CERIA dengan dominasi warna BIRU MUDA DIJITALIK berupa LINGKARAN dan TAPAK TANGAN yang melambai  berwarna KUNING. Pengalaman sebagai perusahaan yang sudah satu abad lebih bergelut di bidang telekomunikasi diwakili oleh warna hitam tulisan TELKOM yang konservatif. Ini bagaikan gambaran TELKOM menjadi Bapak bagi anak-anaknya yang tak lain adalah lini-lini usahanya, produknya, dan komunitas2 influencer yang dapat dibangun oleh setiap orang di abad digital dengan menggunakan layanan TELKOM.

Menurut Dirut Telkom, transformasi kali ini adalah yang terbesar sepanjang sejarah Telkom, karena bersifat fundamental, menyeluruh dan terintegrasi yang menyentuh empat aspek dasar perusahaan. Yakni, transformasi bisnis, infrastruktur, sistem dan model operasi, serta transformasi sumber daya manusia.

Upaya Telkom dalam mempertahankan bisnis tradisionalnya dilakukan dengan cara mengoptimalkan jaringan saluran tetap kabel (fixed wireline), penyelarasan terhadap layanan seluler dan fixed wireless access (FWA), memisahkan FWA sebagai unit bisnis tersendiri, serta merampingkan portfolio anak perusahaan (streamline subsidiary portfolio). menurut Rinaldi, Dirut Telkom, dengan fokus berbasis TIME akan membuat Telkom menguasai 60% pendapatan dari industri new wave.

New wave yang dimaksud adalah bisnis baru di industri teknologi komunikasi informasi yang tidak hanya mengandalkan sektor telekomunikasi tetapi beralih kepada konten, portal, media, dan solusi teknologi informasi. Infrastruktur telekomunikasi hanya dijadikan sebagai tulang punggungnya saja.

Saat ini, menurut Rinaldi, new wave business baru berkontribusi sekitar 20% bagi total pendapatan Telkom. Kontributornya dari anak usaha seperti Sigma Cipta Caraka atau Indonusa. Sedangkan sumbangan terbesar masih datang dari sektor telekomunikasi sebesar 60%.

Jadi, itulah yang membuat Telkom Indonesia mengubah logonya yang tadinya nampak konservatif sebagai penyedia telekomunikasi, sekarang ini akan merambah segala lini yang mungkin yang dapat didijitalkan dengan produk-produk yang nampaknya akan mengarah pada generasi bari abad dijital, yaitu mereka yang hobi fesbukan, twitteran, kirim sms, ataupun cuma sekedar beli hape buat gaya doang untuk mengisi waktu di angkot, di kereta, di bis kota, di mobil pribadi, di kamar mandi, dan nyaris di semua tempat oang membawa hape bahkan petani, pengangon bebek, tukang beca, pengamen, dan asongan rokok pun sudah punya hape.

Sekilas Sejarah Telkom Indonesia

1882 sebuah badan usaha swasta penyedia layanan pos dan telegrap dibentuk pada masa pemerintahan kolonial Belanda.

1906 Pemerintah Kolonial Belanda membentuk sebuah jawatan yang mengatur layanan pos dan telekomunikasi yang diberi nama Jawatan Pos, Telegrap dan Telepon (Post, Telegraph en Telephone Dienst/PTT).

1945 Proklamasi kemerdekaan Indonesia sebagai negara merdeka dan berdaulat, lepas dari pemerintahan Jepang.

1961 Status jawatan diubah menjadi Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi (PN Postel).

1965 PN Postel dipecah menjadi Perusahaan Negara Pos dan Giro (PN Pos & Giro), dan Perusahaan Negara Telekomunikasi (PN Telekomunikasi).

1974 PN Telekomunikasi disesuaikan menjadi Perusahaan Umum Telekomunikasi (Perumtel) yang menyelenggarakan jasa telekomunikasi nasional maupun internasional.

1980 PT Indonesian Satellite Corporation (Indosat) didirikan untuk menyelenggarakan jasa telekomunikasi internasional, terpisah dari Perumtel.

1989 Undang-undang nomor 3/1989 tentang Telekomunikasi, tentang peran serta swasta dalam penyelenggaraan telekomunikasi.

1991 Perumtel berubah bentuk menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) Telekomunikasi Indonesia berdasarkan PP no.25 tahun 1991.

1995 Penawaran Umum perdana saham TELKOM (Initial Public Offering/IPO) dilakukan pada tanggal 14 November 1995. sejak itu saham TELKOM tercatat dan diperdagangkan di Bursa Efek Jakarta (BEJ), Bursa Efek Surabaya (BES), New York Stock Exchange (NYSE) dan London Stock Exchange (LSE). Saham TELKOM juga diperdagangkan tanpa pencatatan (Public Offering Without Listing/POWL) di Tokyo Stock Exchange.

1996 Kerja sama Operasi (KSO) mulai diimplementasikan pada 1 Januari 1996 di wilayah Divisi Regional I Sumatra – dengan mitra PT Pramindo Ikat Nusantara (Pramindo); Divisi Regional III Jawa Barat dan Banten – dengan mitra PT Aria West International (AriaWest); Divisi Regional IV Jawa Tengah dan DI Yogyakarta – dengan mitra PT Mitra Global Telekomunikasi Indonesia (MGTI); Divisi Regional VI Kalimantan – dengan mitra PT Dayamitra Telekomunikasi (Dayamitra); dan Divisi Regional VII Kawasan Timur Indonesia – dengan mitra PT Bukaka Singtel.

1999 Undang-undang nomor 36/1999, tentang penghapusan monopoli penyelenggaraan telekomunikasi.

2001 TELKOM membeli 35% saham Telkomsel dari PT Indosat sebagai bagian dari implementasi restrukturisasi industri jasa telekomunikasi di Indonesia, yang ditandai dengan penghapusan kepemilikan bersama dan kepemilikan silang antara TELKOM dengan Indosat. Dengan transaksi ini, TELKOM menguasai 72,72% saham Telkomsel. TELKOM membeli 90,32% saham Dayamitra dan mengkonsolidasikan laporan keuangan Dayamitra ke dalam laporan keuangan TELKOM.

2002 TELKOM membeli seluruh saham Pramindo melalui 3 tahap, yaitu 30% saham pada saat ditandatanganinya perjanjian jual-beli pada tanggal 15 Agustus 2002, 15% pada tanggal 30 September 2003 dan sisa 55% saham pada tanggal 31 Desember 2004. TELKOM menjual 12,72% saham Telkomsel kepada Singapore Telecom, dan dengan demikian TELKOM memiliki 65% saham Telkomsel. Sejak Agustus 2002 terjadi duopoli penyelenggaraan telekomunikasi lokal.

2009 TELKOM ganti logo baru

sumber sejarah Telkom : Lihat disini

SocialTwist Tell-a-Friend

Tags:

Comments are closed.