Soempah Pemoeda Kini & 80 Tahun Yang Lalu

Kongres Pemoeda Ke-2
SOEMPAH PEMOEDA
Pertama :
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA
Kedoea :
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA
Ketiga :
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA
Dipenghoejoeng hari Raboe tanggal 28 Oktober 2009 ini, saja baroe ingat kalaoe hari ini adalah Hari Soempah Pemoeda. Itoe hari dimana pemoeda dan pemoedi dari jong Java, Jong Ambon, dan Jong-jong lainnya berkoempoel dan berikrar yang kemoedian menjadi Soempah Pemoeda.
Catatan Sejarah
Menurut sejarahnya, Mohammad Yamin , pertama kali merumuskan teks Soempah Pemoeda yang terkenal itu. Maklum saja, beliau memang ahli sejarah, sastrawan, dan terkenal dengan karyanya yang monumental yaitu “Gadjah Mada”. Yamin umumnya dikenal sebagai tokoh pemuda Betawi.
Rumusan itu nampaknya mendadak ditulis atau sebenarnya sudah ada di kepala Yamin. Menurut ulasan Tempo, teks sumpah pemuda yang ia buat disodorkan kepada Mr Sunario, sebagai utusan kepanduan tengah berpidato pada sesi terakhir kongres. Sebagai sekretaris, Yamin yang duduk di sebelah kiri ketua menyodorkan secarik kertas kepada Soegondo, sembari berbisik, ”Saya punya rumusan resolusi yang elegan.”
Soegondo membaca rumusan resolusi itu, lalu memandang Yamin. Yamin membalas pandangan itu dengan senyuman. Spontan Soegondo membubuhkan paraf ”Setuju”. Selanjutnya Soegondo meneruskan usul rumusan itu kepada Amir Sjarifuddin yang memandang Soegondo dengan mata bertanya-tanya. Soegondo mengangguk-angguk. Amir pun memberikan paraf ”Setuju”. Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin. Setelah disahkan, ikrar pemuda itu pun menjadi tonggak bersatunya bangsa Indonesia.
”Yaminlah yang mengubah kata Ikrar menjadi Sumpah,” kata sejarawan Anhar Gonggong.
Sejak itu, setiap 28 Oktober, Yamin yang pernah menjabat Menteri Kehakiman, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Sosial di masa Soekarno itu selalu diundang hadir dalam peringatan Sumpah Pemuda. Herbert Feith menyebut tokoh yang meninggal pada 17 Oktober 1962 itu sebagai ”seorang ideologis nasionalis yang berada persis di belakang presiden.”
”Dialah penyair yang menemukan formulasi tepat kebangsaan kita,” ujar Mohammad Roem.
Dari Soempah Pemoeda Hingga Kemerdekaan
Sumpah Pemuda mengikrarkan tiga hal penting sebagai dasar terbentuknya identitas nasional Indonesia sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia sendiri ada. Kalau kita hitung dari tahun 1928 sampai 1945, maka ide kesatuan suku-suku bangsa Nusantara yang kemudian menjadi Indonesia itu lamanya 17 tahun. Jadi, dapat dibayangkan bahwa suatu visi dan misi para pemuda semasa Muhammad Yamin, Soekarno, dll itu membentang sekian lama sebagai suatu cita-cita ideologis yang tak pernah padam. Sampai akhirnya, peluang untuk memerdekakan diri sebagai bangsa yang semula terjajah muncul ketika Amerika Serikat menjatuhkan Bom Atom di Hirosima dan Nagasaki. Itu momen peluang yang tidak disisa-siakan olehs ebagian pemuda sehingga akhirnya dengan setengah memaksa, pemuda membawa Soekarno di Rengasdengklok Karawang untuk secepat mungkin memerdekakan diri.
Dua hari sebelumnya, yaitu 15 Agustus 1945 dokter Soedarsono membacakan teks proklamasi di Cirebon. Soedarsono sendiri adalah tokoh gerakan bawah tanah pimpinan Sjahrir di Cirebon. Setelah siaran radio BBC pada 14 Agustus 1945 mewartakan kekalahan Jepang oleh Sekutu, Sjahrir berambisi menyiarkan kemerdekaan Tanah Air secepatnya. Sjahrir menunggu Bung Karno dan Bung Hatta untuk menandatangani teks proklamasi sebelum 15 Agustus 1945. Sjahrir khawatir proklamasi yang muncul selewat tanggal itu dianggap bagian dari diskusi pertemuan antara Soekarno, Hatta, dan Marsekal Terauchi di Saigon. Ternyata harapannya tidak tercapai.
Semangat pemuda yang bergulir sejak tahun 20-an hingga 45-an adalah semangat pemuda yang sekarang kita kenal sebagian diantaranya adalah Founding Father NKRI. Yang terkenal tentu saja Soekarno dan Hatta sebagai pembaca teks. Namun, sebenarnya di belakang mereka terdapat puluhan pemuda perintis dan pelopor , dan ratusan pemuda lainnya, hingga jutaan rakyat Indonesia yang didera kemiskinan semasa penjajahan Jepang yang mendukung gerakan kemerdekaan itu. Mereka adalah generasi awal dimasa pasca-kolonial yang berani mempertaruhkan segalanya untuk merealisasikan visi Kemerdekaan Indonesia yang digaungkan oleh pemuda di tahun 20-an, pemuda tahun awal abad 20 yang sekarang mungkin amat jarang dikenal namanya, apalagi kiprahnya oleh generasi muda masa kini.
Akhir kata, memang sudah berubah sesuai zamannya. Pemuda hari ini berbeda dengan pemuda tahun 20-an, 40-an, 50-an, 60-an, 70-an, 80-an, dan 90-an sampai 2000-an. Tiap zaman memang akan melahirkan anak-anaknya sendiri. Meskipun ada satu hal pokok yang akan selalu dihadapi yaitu berjuang untuk tetap eksis sebagai pemuda yang akhirnya tumbuh dan berkembang menjadi dewasa. Dewasa dalam sikap maupun pemikiran. Namun, yang berkembang dewasa ini sejak tahun 70-an memang nampak mengkhawatirkan karena hilangnya nilai-nilai etis dan moral yang banyak menghinggapi pemuda, mulai dari tumbuh sampai berkembang menjadi pengambil keputusan.
Maraknya korupsi di Indonesia hanyalah puncak gunung es dari runtuhnya alas gunung itu yang rapuh sejak 40 tahun yang lalu. Dan itu nampaknya terjadi turun menurun sehingga dalam sejarah pemberantasan korupsi, ditemui banyak kesulitan karena pihak-pihak yang selama ini dianggap bersih pun ternyata mengandung virus-virus korupsi.
Tantangan masa depan bagi generasi remaja yang kelak menjadi pemuda di awal tahun puluhan nanti nampaknya sepertui replikasi pemuda tahun 1910-an sampai 20-an yaityu meletakkan kembali fondasi yang kokoh dengan pendidikan dan peningkatan kualitas hidup supaya remaja hari ini, yang kelak menjadi pemuda sepuluh tahun mendatang, menjadi manusia Indonesia yang mumpuni ketika mulai menjadi pengambil keputusan di tahun 2020-an.
Karena itu sekali lagi pemuda hari ini mesti kembali melihat sejarah dengan seksama, menyerap semangat dan spirit para pemuda pelopor yang ikhlas, percaya diri, mandiri, mempunyai pengetahuan yang memadai, berakhlak mulia, dan akhirnya menghimpun semua itu menjadi modal guna menghadapi tantangan Bangsa Indonesia di masa depan. Baik tantangan dari luar maupun dari dalam dengan tidak mentoleransi perbuatan-perbuatan yang merugikan negara maupun rakyat banyak.
Hallo, gimana para pemuda hari ini? Masih alaykah Anda ?
Wass
Atmonadi
Sumber
- Tempo via Nugie28.wordpress.com
- Tempo via diskusi di milis IA-ITB@yahoogroups.com
SHUFFAH

