Akhirnya Presiden Bicara Juga
Bagaimana hukum di Indonesia ini bisa tegak kalau pilar-pilar hukumnya saling curiga satu sama lain dan berupaya menyelamatkan carut marut lembaganya sendiri?
Belakangan ini keriuhan KPK, Kepolisian dan Kejaksaan kembali menjadi sorot perhatian masyarakat. Pasalnya, dua mantan petinggi KPK yang diperiksa secara resmi dinyatakan di tangkap oleh Polisi. Karuan saja, banyak orang yang terperangah. Menganga dan terheran-heran dengan jalinan kisah Buaya dan Cicak yang melibatkan 3 institusi , dan Satu Bank yang dengan aman sudah ganti nama yaitu Bank Century. Kasus inipun, sebenarnya kalau mau dirunut ke belakang erat kaitannya dengan ditangkapnya Antasari karena dituduh membunuh Nasrudin dan berselingkuh denan Rhani yang mengaku istri Nasrudin.
Dari semula, kaitan antar lembaga pemerintah dan satu lembaga perbankan, plus pembunuhan Nasruddin ini memang nampak saling menyilang. Satu sama lain diam-diam telah saling memata-matai sehingga masing-masing sudah mempunyai kartu truf sendiri. Anehnya, di zaman konvergensi infokom ini rupanya banyak pejabat maupun pejibit yang sepertinya tidak sadar kalau memata-matai, merekam, ataupun mencuri dengar itu bukan sesuatu yang aneh. Jadi, hampir semua pihak yang punya modal uang dan punya akses sebenarnya dapat saja menjadi mata-mata. Makanya, ketika bukti mulai menyinggung soal rekaman dan sejenisnya kasus ini semakin pabalieut karena ternyata masing-masing pihak punya kartu truf yang bisa digunakan untuk melawan balik.
Terkuaknya suatu traskrip wawancara yang menyinggung-nyinggung Call Sign orang nomor satu di Republik ini yaitu RI-1 membuat orang makin terperangah dan mengangakan kupingnya. Seberanikah itukah tokoh yang terlibat di Bank Century itu mencatut RI-1 dalam semua perkara yang diributkan itu?
Sehubungan dengan itulah pada akhirnya, siang ini tanggal 30 Oktober 2009, RI-1 pun angkat bicara. Sebenarnya boleh dibilang mendeklarasikan dia ada di posisi apa dan bagaiman semestinya karena sudah santer terdengar kelompok maupun perorangan yang mulai lupa diri juga seolah-olah mau mengarahkan presiden ikut campur dan bertindak langsung dalam masalah yang makin lama bagaikan benag kusut ini.

Nah jikalau Presiden RI benar-benar ikut campur dalam perkara hukum yang melibatkan KPK-Kepolisian-Kejaksaan ini, maka makin runyamlah negeri ini karena intervensi kepala negara atas suatu kasus justru akan semakin memurukkan Indonesia menjadi negara yang sama sekali tidak punya pengertian tentang arti hukum sebagai sesuatu yang mesti ditegakkan dengan kokoh. Negara macam apa yang akan menjadi kalau sudah begini?
Padahal banyak orang, baik ahli hukum maupun bukan, berkoar-koar supaya RI harus menjadikan hukum sebagai panglima. Kenyataannya , banyak kelompok maupun perorangan yang mulai emosional menyikapi masalah KPK-Kepolisian, yang nampaknya semula dikiran pergulatan Cicak dan Buaya, ternyata setelah ada indikasi Kejaksaan terlibat maka ternyata ada reptil ketiga yaitu Komodo yang terlibat.
Saya lega ternyata Presiden SBY tidak ikut-ikutan terpancing secara emosional karena desakan dan tekanan yang mengarah menjadi tekanan politis ini. Penjelasan SBY siang tadi mestinya mampu membuka mata kita kalau ternyata masalahnya bukan sekedar orang perorangan lagi. Tapi menyangkut kredibilitas kelembagaan yang nampaknya sudah seperti dianggap “kerajaan pribadi” atau menjadi lembaga milik perorangan dan kelompok saja. Apalagi perkaranya menyangkut pihak keempat dimana UANG-lah yang menjadi persoalan dan keterlibatannya dalam suap menyuap, sogok menyosok, alias korupsi. Jadi, muara sebenarnya berkaitan dengan rivalitas kelembagaan yang bersaing supaya satu sama lain tidak saling menjatuhkan ibarat pepatah dukun yang pas ketemu di atas panggung “Satu guru satu ilmu, sama-sama tukang tipu“. Yang disayangkan, ketiga lembaga tersebut nampaknya lupa sama sekali tentang peran dan fungsinya di masyarakat karena faktor rasa takut belangnya diketahui umum sudah lebih dulu menutup akal sehat dan hatinya. Ah mestinya pertikaian Cicak, Buaya dan Komodo ini masuk rekor MURI saja sebagai salah satu episode khusus yang hanya terjadi di Indonesia modern.

SHUFFAH
