10 Nopember 1945, Battle Of Surabaya
Apa yang secara otomatis saya ingat setiap tanggal 10 Nopember?
Pertamax. Soerabaia, kota berlogo BUAYA yang sekarang sedang banyak dibincangkan orang karena kasus KPK-Kepolisian yang dijuluki Cicak vs Buaya. Anehnya, entah sengaja atau tidak, inisiator istilah itu yaitu Susno Duadji serta konco-konconya yang terlibat dalam perselingkuhan hukum umumnya pernah bertugas dan tinggal Surabaya.
Kedua, foto keren yang tak kalah kerennya dengan foto Che Guavara yang legendaris itu yaitu foto Bung Tomo atau Sutomo yang sedang mengacungkan telunjuk jarinya, dengan latar belakang bentuk lingkaran seperti obat nyamuk, dan corong mikrofon RRI jaman dulu. Foto itu demikian terkenalnya di Indonesia sampai-sampai setiap tahun kalau memperingati Hari pahlawan 10 Nopember selalu menjadi aikon. Seruannya yang terkenal adalah suatu koaran semangat yang mengobarkan spirit perlawanan rakyat :
Ketika banteng-banteng Indonesia masih punya darah merah yang membuat secarik kain putih menjadi berwarna merah dan putih, maka hanya satu tujuan MERDEKA ATAU MATI. Saudara-saudara jangan takut kepada penjajah. Ingatlah Tuhan selalu bersama kita. ALLAHU AKBAR…ALLAHU AKBAR…ALLAHU AKBAR…. Merdeka”
-Bung Tomo-
Bung Tomo atau Sutomo meninggal di Padang Arafah, Arab Saudi tangal 7 Oktober 1981 pada usia 61 tahun.

Ketiga hotel Yamato, tempat dimana terjadi insiden perobekan bendera Belanda yang berwarna merah putih biru menjadi merah dan putih. Insiden yang dikenal juga sebagai Insiden Tunjungan ini nampaknya spontan sebagai kemarahan rakyat ini menjadi aikon juga bagaimana Soerabaia kemudian menjadi kota heroik dengan pertempurannya yang terjadi selama tanggal 27 Oktober 45 sampai 20 Nopember 45.
Keempat, Brigadir Jendral Malllaby, jendral Inggris pemimpin tentara sekutu untuk Jawa Timur yang mobilnya diledakkan dan menyebabkan ia tewas. Tewasnya Brigadir Jendral Mallaby ini menyebabkan turunnya ultimatum Inggris kepada rakyat Soerabaya . Dalam ultimatum itu disebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum adalah jam 6.00 pagi tanggal 10 November 1945.
Ultimatum ini menyebabkan kemarahan . Akhirnya, pada 10 November pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan besar-besaran dengan mengerahkan sekitar 30 000 serdadu, 50 pesawat terbang, dan sejumlah besar kapal perang. Kota Surabayapun dihujani bom dan ditembaki dari laut dan darat. Krbanpun berjatuhan di kalangan penduduk Surabaya. Banyak yang meninggal dan lebih banyak lagi yang luka-luka. Tetapi, perlawanan pejuang-pejuang juga berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari penduduk.

Perkiraan Inggris untuk menaklukkan Surabaya hanya dalam tempo 3 hari meleset. Meskipun Inggris menggunakan persenjataan modern yang lengkap, termasuk pesawat terbang, kapal perang, tank, dan kendaraan lapis baja yang cukup banyak, namun pertempuran Surabaya justru bertahan lama.
Peristiwa berdarah di Surabaya ketika itu juga telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat yang menjadi korban ketika itulah yang kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan.

Pertempuran Surabaya melibatkan sekitar 20.000 tentara rakyat, dna ribuan rakyat Indonesia yang sebenarnya bukan tentara. Korban yang jatuh ditaksir sekitar 16.000 orang. Bung Tomo merupakan sosok legendaris yang menyerukan perlawanan rakyat atas tentara Inggris, terutama melalui corong radionya.
Tentara Inggris dikomandani oleh Brigjen A.W.S Mallaby dan Mayjen E.C Mansergh. Kekeuatannya mencakup 100.000 pasukan didukung oleh tank, pesawat tempur, dan kapal perang. Jumlah korban tentara sekutu Inggris yang tewas mencapai 2000 orang.











Dari berbagai sumber .
SHUFFAH


Mardeknoo