Catatan Di Hari Anti Korupsi Sedunia (9/12)

Wednesday, December 9, 2009
By admin

QS 9:12. but if They Violate their oaths after their covenant, and taunt you for your Faith,- Fight ye the Chiefs of Unfaith: for their oaths are nothing to them: that Thus They may be restrained. (Yusuf Ali)

QS 9:12. jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu (yang dimaksud dalam kontek agama disini sebagai sesuatu yang mengikat seseorang pada suatu aturan adalah sebagai keyakinan yang lurus dan tidak korup, catatan penulis), Maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir (yang dimaksud orang kafir disini adalah mereka yang tidak mempunyai keyakinan tentang suatu keyakinan yang baik, catatan penulis) itu, karena Sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti.

Hari ini, 9 Desember 2009 (9/12)  diperingati sebagai hari Anti Korupsi sedunia. Hari ini umat manusia memang diingatkan untuk membersihkan kejahatan yang dinamakan korupsi bagaikan menyapu jagat. Entah ide darimana PBB ini untuk menetapkan 9/12  sebagai  hari anti korupsi, yang jelas jutaan, bahkan milyaran orang di berbagai belahan dunia menyambutnya dengan hangat. Kalau tidak salah kutip, PBB telah mencanangkan ratifikasi Anti Korupsi sejak tahun 2003. Indonesia, yang terkenal selalu masuk 5 besar negara terkorup, Hari Anti Korupsi tahun ini nampaknya menjadi momentum yang kuat guna menciptakan Indonesia Bersih setelah didera berbagai peristiwa yang berhubungan dengan Korupsi.

Korupsi memang bagaikan momok dan kotoran yang menakutkan. Ia kejahatan yang usianya sama dengan usia umat manusia. Bahkan mungkin lahir seiring dengan lahirnya aktifitas paling tua di dunia yang paling kontroversial  yaitu pelacuran dan perbudakan. Pelacuran umumnya dinisbahkan kepada kaum Hawa dengan berbagai alasan yang umumnya berkait dengan ekonomi atau karena menjadi kaum yang direndahkan. Perbudakan juga erat kaitannya dengan penindasan kalangan kuat terhadap yang lemah. Boleh jadi, keduanya bisa lahir bersamaan karena bencana bencana yang dahsyat dan peperangan yang merendahkan satu kaum dan menimbulkan ketidakadilan ekstreem.

Korupsi sebaliknya, ia justru lahir dari rahim kepongahan dan kerakusan manusia akan kekuasaan dan kekayaan yang ekstreem. Ingat kan pepatah politik lama “kekuasaan cenderung korup, dan kekuasaan mutlak (atau berlebihan) pastilah korup”. Sehingga dengan enteng mengabaikan banyak norma dan aturan main. Baik norma dan aturan yang disebut agama, keadilan, hukum, norma sebagai manusia, dll. Saya kutipkan QS 9:12 diatas bukan kebetulan nomor surat dan ayatnya sama dengan tanggal dan bulan hari ini, tapi karena isinya menyiratkan pesan ketuhanan yang erat kaitannya dengan KORUPSI.

Belakangan ini, di Indonesia dan di negara tetangga kita yaitu Filipina (dimana 50 lebih orang tewas (termasuk wartawan dan staf PDD) dibrondong gerombolan bersenjata yang berhubungan dengan penguasa daerah di Filipina), kita pun ditunjukkan ketidakadilan ekstreem dengan berbagai kasus yang melibatkan perbuatan satanik yang kita sebut Korupsi. Sebut saja mulai dari kasus selama pemilu yaitu kacaunya data DPT, korupsi di Departemen Kehutanan, riuh rendahnya kasus Cicak vs Buaya, kasus bank Century yang menelan dana yang nyaris sama dengan anggaran Hankam Indonesia yaitu 6 trilyun lebih, kasus Prita vs Rumah Sakit Omni yang terpaksa harus berakhir dengan sokongan uang recehan sebagai simbol perlawanan rakyat kecil, kasus rakyat jelata tua renta yang didera hukuman sebulan lebih untuk 3 butir biji Cocoa, dan kasus-kasus ketidakadilan ekstreem lainnya yang nampaknya mencuat kepermukaan dan menjadi sorot perhatian manusia Indonesia generasi baru yang demen  internet-tan, facebook-kan, twitter-ran, dan seabrek komunikasi dijital lainya. Dan disinilah perlawanan mulai muncul, semua manusia bagaikan punya cara untuk menunjukkan antipatinya kepada kejahatan yang satu ini yaitu : KORUPSI  DAN KETIDAKADILAN EKSTREEM yang menyertainya.

Rakyat jelata seolah-olah dihadapkan dengan rusaknya LOGIKA BERPIKIR secara ekstreem manakala melihat kenyataan aneh “orang dituduh mencuri 3 butir Cocoa di hukumi sebulan penjara lebih. Lha mereka yang menilep 6 Trilyun uang negara malah dianggap talangan yang sudah sepantasnya untuk mencegah kerusakan sistemik”. Itupun tanpa fakta kongkrit dan kuantifikasi yang jelas apa sebenarnya maksud “sistemik” disini. Jadi, jangan heran kalau istilah “sistem” pun yang mestinya jelas komponen-komponennya, kalau diucapkan orang Indonesia jadi kabur artinya, seolah-olah suatu kata dengan mudah diselewengkan artinya (menjadi ambigu) yang penting sebut saja sebagai  “sistem” biar nampak ilmiah. Permainan kata-kata ini nampaknya sudah menjadi jamak sehingga seringkali tanpa sadar pemerintah atau penguasa yang bermaksud “mengumumkan” sesuatu malah nampak jadi seperti “mengintimidasi”.

Umumnya, korupsi berkaitan dengan  kalangan birokrat  & pemegang kekuasaan. Makanya, tidak heran kalau korupsi identik dengan kalangan elit politik dan kekuasaan, kalangan aparacik, pusaran bisnis & uang yang luar biasa besar, dan bebagai ulah negatif lainnya yang muaranya adalah kerakusan dan ketamakan manusia atas harta, tahta dan – not but at least - yang sudah lama diketahui juga adalah wanita. Jadi, jangan heran, selama kurun Indonesia modern banyak kasus korupsi melibatkan juga wanita, yang berperan didalamnya , baik sebagai pelaku, penyokong, atau bahkan mungkin pendorong terjadinya korupsi. Ingat Mrs Ten persen yang dinisbahkan kepada Ibu Tien Soeharto dulu? Atau tak jauh-jauh kasus Artalita dan KPK serta Antasari  yang akhirnya justru berbuntut melibas Antasari yang diduga terlibat pembunuhan berencana dan akhirnya jadi pesakitan karena dugaan berkait dengan perselingkuhannya dengan Rhani. Dan yang terbaru, tentu saja sosok misterius wanita bernama Ong Yuliana yang perannya nampak mampu menekan bahkan nampak memberi kesan mampu membuat Anggodo nampak seperti bocah nakal yang takut dimarahi  “Mamah”-nya.

Hari Anti Korupsi pada akhirnya menjadi momen berharga bagi manusia Indonesia baru yang nampaknya telah kehilangan greget dan sense tentang situasi negerinya sendiri sejak tahun 1998 yang lalu. Gerakan-gerakan Anti Korupsi yang marak belakangan ini, tentunya menunjukkan respon positif dan kesadaran manusia Indonesia baru akan pentingnya kehidupan yang lebih bersih, lurus dan dipercaya. Tidak peduli apakah para pelakunya hari ini kelak akan menikmati hasilnya atau tidak dari upayanya hari ini. Yang penting adalah ada “keyakinan dan harapan” kalau kehidupan yang lebih baik dapat tercipta di Indonesia kalau semua lapisan masyarakat sadar akan pentingnya kepercayaan dan keadilan dengan hukum yang tegak untuk semua masyarakat. Bukan sekedar hukum yang tegak untuk penguasa dan konconya saja, dan bukan sekedar kesempatan yang ada untuk kalangan tertentu saja yang memani-pulas-i kehidupan di Ibu Pertiwi ini. Tapi kesempatan yang adil dan seimbang bagi semua masyarakat untuk menjadi eksis sebagai Manusia Baru Indonesia  yang mampu mengarungi gelombang perubahan zaman dengan potensi kreatifnya, dengan kokoh, yakin, percaya diri, dan tentu saja mempunyai ketegaran sebagai bangsa yang berdaulat di dunia. Selamat memperingati pentingnya kesadaran tentang Anti Korupsi di Hari Anti Korupsi Sedunia tanggal 9 bulan 12 ini.Atmnd114912

Atmnd, babelan, bekasi

SocialTwist Tell-a-Friend

Tags:

One Response to “Catatan Di Hari Anti Korupsi Sedunia (9/12)”

  1. Korupsi pada saat sekarang sudah seperti wabah yang menyerang hampir seluruh negara. Suatu hal yang sangat memprihatinkan. Tidak salah rasanya, ketika badan dunia menetapkan hari anti korupsi sedunia.
    Mudah-mudahan kita bisa memaknainya lebih dari sekedar seremonial yang hanya berakhir pada hari itu. Kampanye anti korupsi harus selalu kita tanamkan dan gelorakan sepanjang masa, dengan dimulai dari diri sendiri tentunya.
    Cara Membuat Blog

    “setuju bro”

    #158