Proyek Mercusuar 117 Trilyun : Jembatan Selat Sunda
Selain kisruh tentang korupsi, dalam rangka mencapai target 100 hari, kabinet SBY berupaya memasukkan proyek Jembatan Selat Sunda di dalam agendanya. Menurut berita terbaru Kompas Online, jembatan penghubung Pulau Jawa dengan Sumatera itu menjadi program 100 hari pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu jilid dua, pembiayaannya berbeda dengan jembatan Suramadu yang sepenuhnya dibiayai pemerintah pusat dan daerah.
Kemegahan Borobudur (maupun kemegahan Pyramid Mesir) adalah kemegahan semu karena didirikan diatas hawa nafsu umat manusia kala itu yang akhirnya justru melenyapkan generasi penguasa pembangun Candi Borobudur.
Ide membangun jembatan yang menghubungkan Jawa dan Sumatera ini sebenarnya sudah terlontar sejak tahun 2003 yang lalu, setahun sebelum Tsunami Aceh memporakporandakan ujung Sumaetra itu. Catatan di blog Wiryanto DEwobroto memaparkan lebih jauh bagaimana ide Jembatan Selat Sunda ini berkembang dan telah dilakukan kajian secara teknis oleh pakar teknik Sipil ITB yaitu Prof. Wiratman Wangsadinata (1997) dan Dr.Ir. Jodi Firmansyah (2003).
Dari kedua ahli tersebut, taksiran biaya yang dibutuhkan berbeda sangat besar. Prof. Wiratman memperkirakan perlu biaya sekitar US$ 7 Billion (atau Rp 16.7 Trilliun, waktu itu tahun 1997 sebelum krisis atau sekarang sekitar Rp 60 – 70 Trilliun). Sedangkan Dr. Jodi memperkirakan Rp. 30 Trilliun tahun 2003. Rincian teknis bagamana ide besar ini muncul dan berkembang selama ini sejak tahun 2003 silahkan dibaca di blog Wiryanto Dewobroto tersebut, sangat menarik untuk diikuti.
Tahun ini, perkiraan itu telah melonjak menjadi 117 trilyun rupiah dan menjadi bagian penting dari program 100 hari SBY dengan kabinet jilid duanya. Nah, ini masalah.
Proyek raksasa itu mestinya tidak menjadi bagian dari ambisi 100 hari karena sangat riskan dari segi keputusan untuk ditetapkan sebagai target jangka pendek yang pasti akan jadi beban di masa depan. Biaya yang 17,46 kali nilai uang yang ditilep dalam kasus Bank Century (6,7 trilyun) justru berpotensi akan membebani rakyat. Pastinya uang itu bakal uang utangan meskipun digarap dengan bantuan swasta, tetap saja akan menjadi balon yang dapat meletus seperti halnya yang terjadi di Dubai dewasa ini dengan menara tertingginya.
Megaproyek ini juga bukan model proyek yang dengan gampangnya ditetapkan sebagai bagian proyek 100 hari. Karena ada unsur tidak fair seolah-olah originator proyek ini adalah kabinet SBY. Nanti yang muncul malah saling klaim (tapi tak mau bertanggung jawab cuma kalim doang), mirip waktu jembatan Suramadu diresmikan yang bertepatan dengan kampanye pemilu 2009. Waktu kampanye kemarin itu, klaim-mengklaim dan aku-mengaku seolah-olah “sayalah yang paling berjasa” muncul kepermukaan membuat rakyat geli dan tertawa terkekeh-kekeh. Dan tentu saja membuat rakyat penasaran, seperti apa Suramadu itu. Hasilnya, Suramadu menjadi obyek wisata. Mirip betul dengan Borobudur yang sekarang jadi obyek wisata. Tapi Suramadu tak perlu nunggu ratusan tahun untuk jadi salah satu tujuan wisata Jatim.
Megaproyek adalah proyek strategis yang mestinya berjalan antar generasi dan kelak perlu disadari oleh rakyat sebagai beban yang harus ditanggung sendiri. Betul saudara-saudara ini beban rakyat bukan beban kabinet. Rakyatlah yang akan menanggungnya bukan yang saat ini menjadi menteri atau presiden. Ingat saja megaproyek PT D.I. yang tidak menjadi beban Soeharto atau Habibie, tapi menjadi beban rakyat sampai hari ini. Bahkan beban karyawan PT D.I. yang akhirnya serabutan kemana-mana setelah perusahaan dengan fasilitas super duper canggih itu dianggap gagal setelah lengsernya Soeharto dan Habibei. PT D.I pun menjadi menara gading yang retak dimana-mana.
Pembangunan jembatan mega dengan biaya mega perlu dipertimbangkan lebih jauh bukan sekedar proyek ambisi untuk menancapkan nama belaka. Zaman ini, memang zaman rasional, menetapkan ambisi belaka atau hanya sekedar gengsi di mata dunia justru akan menyebakan kesengsaraan berkepanjangan. Ingat saja apa yang terukir di kaki Candi Borobudur yang disembunyikan karena menyiratkan suatu isyarat bahwa :
Kemegahan Borobudur (maupun kemegahan Pyramid Mesir) adalah kemegahan semu karena didirikan diatas hawa nafsu umat manusia kala itu yang akhirnya justru melenyapkan generasi penguasa pembangun Candi Borobudur.
Pembangunan suatu rekayasa teknis mestinya dibangun atas dasar manfaat bukan semata-mata keakuan untuk menonjolkan obsesi manusia. Faktor sosi0-ekonomi-budaya juga harus dipertimbangkan dengan matang. Bukankah teknologi saat ini memungkinkan simulasi kedepan apakah suatu proyek layak atau tidak ? Jangan hanya karena ingin dianggap bangsa yang karyanya mahahebat ternyata hanya menciptakan kesengsaraan bagi rakyat banyak dengan beban yang tak tertanggungkan sampai-sampai mungkin generasi mendatang justru akan berpikir lain, mendingan lenyapkan saja negara ini dan bangun negara baru untuk menghapus dosa masa lalu. Itulah barangkali yang terjadi tidak lama setelah Borobudur berdiri dan dihancurkan dengan bencana alam dan pergolakan sosial di Nusantara masa lalu yang melenyapkan penguasa saat itu selamanya dari Bumi Shambara Nusantara yang sekarang bernama Indonesia itu. Lantas apa yang tersisa? Yang tersisa adalah arang sejarah (calon arang) yang menulis “bekas kemegahan” yang bisu bahkan kemegahan yang disembunyikan asal usulnya yang tertera di kaki Candi Borobudur yang sudah tidak lagi jadi 7 keajaiban dunia ini : “kemegahan ini dibangun atas dasar hawa nafsu manusia“. Maka, mari kita kembali menengok kebelakang, melihat sejarah bangsa ini yang hobi bermegah-megah sampai-sampai lupa tak mau menginjak bumi tempat dimana ia hidup dan berpijak. Belajarlah dari sejarah.
SHUFFAH
