Kopenhagen & Formula 5+1=6 ala SBY

Friday, December 18, 2009
By admin

Baru-baru ini Presiden SBY ada di Kopenhagen, kota di negara Denmark. Saat ini memang di Kopenhagen ada KTT Perubahan Iklim (COP 15) yang dikabarkan berjalan alot ketika tawar menawar bagaimana cara mengatasi perubahan iklim Bumi yang semakin panas ini. Negara-negara maju umumnya emoh bahkan cenderung bertipu muslihat dan ngeles ketika mulai menyentuh substansi cara mengatasi perubahan iklim yang terkait dengan pengurangan karbon. Negara berkembang juga emoh dijadikan budak yang menanggung beban kotoran negara maju yang kalau dihitung justru menjadi penyumbang paling besar atas polusi di dunia dan kerusakan di Bumi lainnya. Tentu saja, karena sering pinjam tangan orang lain di negara berkembang yang umumnya kelak menyangkut korupsi, negara maju seolah-olah tak mau tahu. Makanya ketika disinggung takaran untuk menanggung beban lebih besar mereka umumnya emoh. Itu sebabnya, kenapa KTT Perubahan Iklim di Kopenhagen itu diserbu para pemrotes yang melihat ketidakadilan negara maju ini.

Presiden SBY yang didampingi sederet mentri dan para pembantunya sekarang berada disana untuk ikut bicara. Modalnya dengan optimis ia sebutkan sebagai Formula 5+1.  Rumusan kongkritnya adalah :

Formula 5+1 ini adalah:
Pertama, Indonesia tidak akan melakukan kompromi untuk mencegah pemanasan global melebih 2 derajat Celcius. “Ini bisa dikatakan harga mati,” kata SBY.

Kedua, Indonesia berpendapat agar betul-betul ada pengurangan emisi karbondioksida (CO2) yang tajam. “Saya menyebut pengurangan 40%. Ini sudah sesuai dengan scientific finding,”ujar dia.

Ketiga, bantuan negara maju kepada negara berkembangan yang mengelola hutan harus dijamin cukup. Selama ini, kata SBY, bantuan negara maju belumlah cukup, belum memadai. “Harus ditingkatkan setinggi-tingginya,” jelas SBY.

Keempat, seiring dengan Kyoto Protokol, Indonesia telah menetapkan pengurangan emisi 26 persen sampai 2020. “Harapan kita negara-negara berkembang juga memiliki exit plan dan berkomitmen untuk pengurangan emisi karbon,” terang dia.

Kelima, harus dilakukan monitoring, reporting, dan verification (MRV). “Banyak yang menolak dilakukan monitoring dan verifikasi,” ujar dia.

Lantas plus 1 yang dimaksud adalah pengelolaan hutan terkait target pengurangan emisi 26% persen pada 2020. “Sebagian besar, 60 % upaya ini adalah bagaimana mengelola hutan lebih baik lagi, mencegah pembalakan liar, mengelola lahan-lahan gambut, dan menyetop kebakaran hutan. Harapan kita ada insentif yang memadai dari negara maju,” jelas SBY.

Nah itulah rumusan Presiden SBY mewakili pandangan negara Republik Indonesia yang aslinya bakal menjadi fokus untuk mengatasi perubahan iklim seperti halnya Brazil. Dan kedua negara yang sama-sama masih berkembang ini terkenal dengan korupsinya. Adakah hubungannya perusakan lingkungan karena ulah negara maju ini dengan para koruptor di kedua negara tersebut yang notabene kerusakan hutannya paling parah?

SocialTwist Tell-a-Friend

Tags:

2 Responses to “Kopenhagen & Formula 5+1=6 ala SBY”

  1. Dukung program SBY dengan Formula 5+1=6

    #159