Prihatin dan Geli

Wednesday, January 6, 2010
By admin

Prihatin dan geli memang tak cocok disandingkan dalam satu kalimat. Dalam KBBI , prihatin erat kaitannya dengan kondisi psikologis yang menimbulkan rasa sedih, was-was karena suatu sebab. Sedangkan geli menurut KBBI masih erat kaitannya dengan perasaan psikis juga. Geli adalah perasaan seperti ketika dikitik-kitik (digelitik), hendak tertawa krn lucu dsb, atau  merasa dan terasa adanya kelucuan. Jadi kontras kan antara “Prihatin” dan “Geli”. Tapi saya mencoba menggabungkannya dengan dua alasan yang sekarang ini sedang merebak di masyarakat.

Apa yang membuat saya prihatin dan apa yang membuat saya geli? Pertama, isu sms gelap yang mencuat kepermukaan kalau almarhum Gus Dur dibunuh.

Kedua, terbitnya buku tandingan Membongkar Gurita Cikeas yang diakui oleh penulisnya, katanya hanya buku nyari untung, mumpung lagi hangat-hangatnya dibicarakan.

Namanya SMS gelap tentunya tak jelas juntrungannya. Meskipun cuma 160 karakter tapi tidak bisa diremehkan begitu saja. Apalagi SMS itu melalui handphone pihak ketiga. Bisa-bisa SMS itu menjadi virus gosip yang menyebar kemana-mana. Ingat ini era networking dimana satu kalimat atau kata dapat dengan mudah disebarluaskan oleh tangan siapa saja. Jadi, meskipun cuma 160 karakter , sms bisu membuat sebel. Tak jelas apa maksud SMS yang mengisukan Gus Dur dibunuh selain membuat bingung orang yang menerimanya dan menimbulkan syak wasangka. Bagaimana pun juga, input yang sengaja disampaikan melalui SMS gelap , apalagi menyangkut sosok yang sangat di hormati di Indonesia bukan dikirimkan sebagai sms main-main atau iseng doank. Tapi memang nampaknya ditujukan untuk menimbulkan penyakit semua manusia yaitu was-was shilkonas di kalangan umat Islam.Khususnya warga NU, umumnya masyarakat Indonesia yang dari zaman purba sampai sekarang penyakit suka desas-desusnya masih ada.

Tujuan SMS gelap itu tentu saja untuk memunculkan keresahan dengan deass desus dan gosip. Bahkan, barangkali memang dimaksudkan untuk menimbulkan syak wasangka antara satu pihak dengan pihak lainnya yang disasar. Jadi, ada unsur kesengajaan untuk memunculkan adu domba.

Menyinggung dunia perbukuan, kasusnya lain lagi. Munculnya buku tandingan MGC karangan GJA membuat saya meringis, dari prihatin menjadi geli. Bahkan nyaris terkekeh-kekeh kalau saja saya tak ingat lagi sendirian melihat berita malam di Indosiar.

Buku yang nampak luks dengan gambar dan foto  berwarna, kertas yang nampak mengkilat karena memang kertas dengan kualitas terbaik, mestinya akan jauh lebih mahal ketimbang buku GJA. Judul buku itupun nampak sensasional juga “Hanya Fitnah dan Cari Sensasi, George Revisi Buku” karya Setiyardi Negara. Sayapun nyaris terkekeh-kekeh manakala melihat penulis buku mengaku bahwa  memang sengaja membuat buku tandingan MGC itu dengan maksud merebut pasar buku yang saat ini rupanya dikuasai buku GJA itu.

Saya tak membayangkan bagaimana reaksi penulis buku sejati , apakah ikut geli atau malah prihatin. Kalau saya, setelah merasa geli jadi malah prihatin jangan-jangan motivasi penulis buku dengan alasan yang sensasional ternyata memang diamini oleh penulis-penulis buku lainnya. Terutama penulis yang menggunakan aji mumpung sehingga tak peduli apa isinya hanya celoteh yang dibukukan atau berisi pengetahuan yang cukup berharga. Belakangan ini produksi buku di Indonesia nampak marak. Tapi mohon maaf, kalau menurut saya produksi itu belum diimbangi kualitas isi buku yang baik. Jadi, meskipun banyak buku diterbitkan isinya nyaris seperti muntahan sampah. Bahkan tak jarang isinya nyomot sana sini dari internet. Baik dario blog maupun artikel-artikel.

Nah itulah yang membuat judul tulisan saya itu saya tulis menjadi “Prihatin dan Geli”.

SocialTwist Tell-a-Friend

Tags:

Comments are closed.