KA Parahyangan Hari Ini Secara Resmi Dipensiunkan
Tanggal 27 April 2010 ini secara resmi Kereta Api Parahyangan akan dipensiunkan oleh PT KAI setelah beroperasi selama kurang lebih 39 tahun. Masyarakat Kota Bandung maupun Jakarta, atau yang saat ini bermukim di Bandung/Jakarta seperti pelajar dan mahasiswa, yang biasa menggunakan KA Parahyangan pun terhenyak dan mulai menyadari bahwa perjalanan dari Bandung ke Jakarta PP telah banyak yang berubah dalam sepuluh tahun terakhir.
Yang paling terasa mungkin karena dibangunnya beberapa akses baru antara Bandung dan Jakarta. Misalnya, dibangunnya tol Cipularang yang mempersingkat akses dari Jakarta ke Bandung PP, dan perubahan jalur transportasi masuk ke kota Bandung dengan di bangunnya Flyover Pasteur yang langsung bisa masuk ke pusat kota , membuat perjalanan dari Jakarta ke Bandung atau sebaliknya menjadi lebih singkat dengan alternatif kendaraan darat yang bervariasi . Sebut saja mulai dari kendaraan pribadi, bis yang semakin nyaman, maupun menggunakan travel biro seperti Cipaganti yang bisa langsung mengantar ke tujuan misalnya ke Bandara. Grup Cipaganti sendiri nampak berkembang pesat dalam sepuluh tahun terakhir. Cipaganti Group nampak mengambil peluang yang muncul dalam perubahan pola2 transportasi antar kota Bandung-Jakarta PP dengan menyediakan layanan transportasi yang nyaman.
Tahun 2009 kemarin saja PT KAI mengaku rugi 39 Milyar akibat menurunnya utilitas KA Parahyangan. Selain adanya berbagai alternatif yang menurunkan minat masyarakat menggunakan KA Parahyangan, waktu tempuh menggunakan KA termasuk boros meskipun di perjalanan dari stasiun-ke-stasiun nampak cepat.
Kurang fleksibilitasnya waktud an lokasi berhenti ketika memasuki kota Jakarta atau Bandung nampak kentara sekali karena boleh jadi dari stasiun ke lokasi akhir (misalnya rumah atau bandara) bisa lebih mahal ongkosnya atau bahkan lebih lama dibandingkan perjalanan Bandung-Jakarta atau Jakarta-Bandung. Masalah ini tidak dapat diselesaikan oleh PT KAI karena aspek-aspek transportasi serti ketatnya jadwal dan waktu tempuh dari stasiun ke lokasi akhir tujuan umumnya diluar kewenangan PT KAI. Bahkan dengan adanya tol Cipularang dan kertersediaan bis maupun travel yang nyaman, waktu tempuh KA Parahyangan nampak semakin tidak efisien dan kurang ekonomis.
Minggu kemarin, saya melakukan perjalanan menggunakan bis antar kota dari Bekasi ke Bandung dengan waktu tempuh 2,5 jam. Tadinya mau naik KA Parahyangan yang berhenti di stasiun Bekasi, tapi apa daya ternyata musti nunggu sejam lebih untuk naik KA Parahyangan. Makanya, saya pun langsung ke terminal bis dan urung naik kereta api Parahyangan yang waktunya nampak kurang fleksibel dan LAMBAN. KA Parahyangan rata-rata masih menempuh waktu 3 samai 3,5 jam . Itupun kalau tak ada kendala di jalan seperti longsor atau rel rusak. Bisa dibayangkan, perjalanan KA Parahyangan hari ini memang berbeda dengan 10 sampai 20 tahun yang lalu dimana jalur darat Bandung Jakarta PP dengan bis umum bisa ditempuh paling cepat 3,5 jam.
Pertama kali saya menggunakan KA Parahyangan mungkin sekitar 20 tahun yang lalu, ketika masih kuliah di Bandung. Saat itu memang KA Parahyangan nampak keren dengan kelas bisnis dan eksekutifnya yang konon katanya sering berisi makhluk-makhluk cakep seperti bintang film. Itu zaman sebelum muncul KA Argo Gede yang melayani jalur yang sama. Setelah lulus kuliah dan bekerja di Jakarta, saya masih bolak balik Jakarta Bandung PP dengan KA Parahyangan karena aksesnya lebih mudah dari tempat saya bekerja ketimbang ke stasiun Kampung Rambutan yang jauh. Lokasi bekerjasa saya ada di Bandara Soeha, jadi dengan menggunakan bis bandara – stasiun Gambir , kalau hari Jumat pasti saya tak akan pulang ke tempat kos tapi langsung menuju stasiun KA Gambir dan pulang ke Bandung. Saat itu, Jumat sore biasanya terjadi antrian panjang dan sangat beruntung sekali kalau dapat tempat duduk, meskipun kelas bisnis. Maklum saja, orang Bandung yang bekerja di Jakarta dan yang mau liburan ke Bandung berebut tiket untuk week-end di Bandung. Setelah keluarga kembali tinggal di Cirebon, saya masih sering ke Bandung mengunjungi adik saya yang masih kuliah dan tentu saja seseorang yang istimewa. Hehehe…jadi kenangan saya dengan KA Parahyangan paling intensif memang sekitar tahun 90-an awal sampai akhir yaitu masa-masa perjuangan dan doa. Di kereta, kalau saya tak bawa buku bacaan biasanya saya bengong saja sambil menerawang melihat pemandangan yang sama dan menjemukan atau berkhayal kemana-mana. Melihat pemandangan yang sama selama bertahun-tahun dari jendela KA Parahyangan memang nampak seperti melihat gerakan frame film yang bergerak lambat yang menampilkan gambar sisi kanan maupun sisi kiri yang sama, tergantung duduk di bangku kanan atau kiri. Memang menjemukan meskipun di Kereta Api gerak kita lebih leluasa untuk sejenak jalan-jalan mengusir kejemuan, merokok, atau sekedar cucui mata di kereta api sambil berjalan sempoyongan goyang kiri-kanan seperti orang mabok.
Setelah akhir tahun 90-an, saya jarang ke Bandung bahkan enam tahun terakhir baru bulan April ini 2010 saya berkesempatan kembali ke Bandung bersama istri untuk urusan bisnis via bis antar kota yang lebih nyaman, murah (Rp. 35.000), dan ternyata cepat.
KA Parahyangan memang sudah menjadi bagian dari kenangan kolektif masyarakat Bandung dan Jakarta. Karena itu ketika khabar kalau KA Parahyangan akan pensiun tanggal 27 April 2010 banyak kalangan yang mengucurkan empati untuk mengenang jasa KA Parahyangan yang legendaris itu. Termasuk saya yang selama dasawarsa 90-an menjadi langganan KA Parahyangan karena tiap minggu masih senang berakhir pekan di Bandung dibandingkan di Jakarta yang panas. Tapi apa mau dikata, dalam bisnis pertimbangan rasional memang perlu lebih diutamakan ketimbang pertimbangan emosional. Dengan kerugian 39 milyar dalam tahun 2009 kemarin, nampaknya penghentian operasi KA Parahyangan merupakan pilihan logis terbaik bagi PT KAI. Sebagai gantinya, KA Argo Gede akan menggantikan peran KA Parahyangan. Argo Gede sendiri namanya diubah menjadi Argo Parahyangan yang dikabarkan akan punya kelas bisnis juga supaya tiketnya lebih terjangkau oleh masyarakat menengah ke bawah. Mungkin nanti pas musim mudik jajaran gerbong KA Parahyangan akan operasional selama beberapa waktu untuk mengantisipasi lonjakan penumpang tahunan itu.
Well, good bye KA Parahyangan, meskipun nampak masih layak digunakan, tapi nampaknya zaman telah berubah, layanan dan akses Jakarta-Bandung PP sudah lebih enak dan mantap dengan bis antar kota taupun travel, jadi mau gak mau memang harus pensiun dini atau dialih operasikan ke jalur lain saja yang masih tumbuh berkembang misalnya jalur Jakarta-Cirebon, atau jalur antar kota lainnya yang jauh dan lebih kompetitif.
SHUFFAH



