Ujian Nasional Yang Jeblok, Kurikulum dan Metode Pendidikan Yang Gagal

Tuesday, April 27, 2010
By admin

Ujian Nasional akhirnya,  memang seperti yang telah diduga , jeblok. Menurut editorial Metro TV hari ini, tingkat kelulusan siswa rata-rata menurun dari tahun sebelumnya yaitu cuma sekitar 89 persen. Tahun 2009 kemarin kelulusan siswa rata-rata 94 persen , jadi dalam setahun dunia pendidikan kita mengalami kemunduran rata-rata yang signifikan -5 % .

Ujian Nasional menurut hemat  saya masih diperlukan sebagai barometer mutu pendidikan Indonesia. Baik mutu anak didik, bahan ajar, sekolah, guru sekolah maupun lembaga yang bertanggung jawab atas pendidikan yaitu Departemen Pendidikan. Bahkan bagi saya ini menunjukkan indikator keberhasilan nasional dari program pemerintah dalam bidang pendidikan. Alokasi dana pendidikan yang ditambah nampaknya akan sia-sia kalau kualitas pendidikan dasar tidak ditingkatkan.

Saya tak bisa membayangkan kalau pendidikan tanpa ujian nasional, entah apa yang akan terciptakan? Apakah manusia berpendidikan atau hanya sekedar robot-robot berbentuk pelajar yang hanya bisa ngomel semata atau manut-manut semata untuk kemudian menjadi makhluk bermental pengecut, maling atau malah menjadi generasi koruptor-koruptor baru.

Betul saudara-saudara, dunia pendidikan kita telah mengalami erosi dan korupsi besar-besaran karena tidak menghadirkan siswa-siswa yang tegar, tapi malah melahirkan manusia-manusia yang lemah mental, cengeng, dan hanya ingin memperoleh nilai instan semata dengan mengabaikan aspek penting pendidikan sebagai suatu wilayah pembangunan manusia yang utuh lahir batin. Yang kita lihat sekarang adalah produk dari kurikulum dan metode pendidikan yang hanya menekankan besaran kelulusan semata, keserbainstanan, melupakan proses, dan menciptakan robot-robot penghapal.

Tidak percaya? Coba sampeyan pelototin dan baca-baca beberapa jenak buku ajar anak SD Anda, anak Anda yang SMP, atau anak Anda yang duduk di bangku SMU/SMK. Isinya bukan buku tapi lebih mirip ringkasan yang berisi kumpulan rumus-rumus tanpa penjelasan.

Pagi ini saya simak Metro TV yang menampilkan editorial mengenai hasil Ujian Nasional yang jeblok. Bahkan kota pelajar seperti Jogjakarta mempunyai tingkat ketidaklulusan tertinggi. Konon katanya Jogja juga menunjukknn indikator kejujuran dalam pelaksnaan Ujian Nasional, makanya hasilnya jeblok-blok, bahkan tingkat ketidaklulusannya tinggi. Dengan kata lain, kota lain yang kelulusannya besar boleh jadi justru tidak jujur dalam pelaksanaan ujiannya , atau minimal ada joki UN suatu kelas baru pelaku joki pendidikan yang mulai populer di kalangan anak SMU kebawah. Dulu yang namanya joki berhubungan dengan ujian masuk perguruan tinggi sekarang sudah merambah ke tingkat menengah.

Di editorial Metro TV, seorang ibu yang nampak emosional rupanya lebih senang melihat anaknya cepat lulus atau diluluskan saja. Iapun dengan emosional pula mengusulkan dihapusnya ujian nasional. Cilako bener pikir saya, kalau cara pandang ibu-ibu itu diamini semua orang tua siswa yang tidak lulus dengan emosional pula maka malapetaka dunia pendidikan lengkap sudah. Bukan saja anak didik dan guru yang jeblok tapi orang tua pun nampaknya telah gagal memahami hakikat pendidikan bagi anak-anaknya karena hanya mementingkan kelulusan semata tanpa mau tahu bagaimana anaknya bisa lulus? Apakah ia benar-benar pintar atau tukang contek?

Seorang Bapak mengusulkan hal yang lebih komprehensif. Nampaknya beliau pun pengamat atau mungkin pelaku pendidikan. Salah satu poin pentingnya cocok dengan poin yang saya pikirkan itu berhubungan dengan buku ajar anak sekolah zaman sekaang yang lebih mirip rangkuman ketimbang sebuah buku yang menjadi sumber ilmu. Buku jaman sekarang lebih mirip sebagai sumber contekan karena miskin ilustrasi maupun narasi yang menjelaskan suatu proses dengan lengkap. Bahasanya pun kebanyakan malah nampak sulit dipahami , seringkali ambigu, dan membingungkan. Belum lagi tidak adanya standar buku baku sehingga buku pegangan antara satu sekolah dengan sekolah lainnya tidak sama penulisnya, tidak sama pula penerbitnya. Kadang tidak jelas benar apakah yang nulis benar-benar pendidik yang berpengalaman atau sekedar penulis karena ada proyek buku. Tidak ada penjelasan siapa tim penulisnya? Apakah penulis fiktif atau benar-benar ada.

Pengadaan buku juga nampak adak aneh. Di tahun 70-80-an, buku sekolah dasar sampai menengah mempunyai standar yang sama. Jadi, tak perlu buku baru karena buku kakak kelas bisa digunakan  lagi untuk adik kelas. Sekarang tidak, dengan penerbit dan penulis yang tidak jelas benar kompetensinya, buku harus dibeli setiap tahun ajaran baru. Bahkan tidak ada penggunaan buku berulang. Buku kaka kelas tidak dapat dipakai oleh adik kelas padahal masih dalam satu sekolah. Jadi, bisa dibayangkan BETAPA BOROSNYA pengadaan buku sekolah hari ini karena tidak transferable. Departemen Pendidikan sebagai pihak berwenang mestinya menertibkan penerbitan buku ajar ini dengan membuat standar baku untuk mata pelajaran dasar yang utama seperti maematika, kimia, fisika, biologi,  bahasa dan agama (kalau memang amsih diajarkan). Proyek buku memang menjadi sumber uang bagi penerbit, penulis dan tentu saja guru dan pegawai departemen Pendidikan. Jadi, tidak heran muncul aturan aneh yang menyebabkan tidak standarnya buku ajar. Padahal ujian nasional memang mustinya diterapkan dengan acuan buku yang sama atau standar.

Wah, banyak benar PR yang harus dituntaskan oleh menteri Pendidikan saat ini, terutama mengkaji kembali kurikulum dna metode pendidikan yang saat ini berjalan, menertibkan pengadaan buku, sarana pelajaran, dan berbagai aspek penting dunia pendidikan yang berhubungan dengan hardawrae, software maupun brainwarenya. Hayoo Pak Muh, benahi sistem pendidikan bangsa Indonesia yang carut marut ini kalau tidak akan terjadi lost generation dalam kurun waktu lima sampai sepuluh tahun ke depan karena tidak adanya sumber daya manusia Indonesia yang berkompeten untuk mengurus potensi dan sumber daya negaranya sendiri. Masak nanti bangsa Indonesia menjadi budak dan jongos di negeri sendiri? Kasus demo buruh di Batam minggu lalu menunjukkan indikasi hasil dari pendidikan sepuluh tahun terakhir yang menyebabkan tenaga kerja Indonesia dijadikan budak di negeri sendiri.

Bagi para orangtua, jangan manjakan anak Anda sehingga setress dengan hasil ujian nasional. Ingat jangan sampai Anda menjadi bagian dari pepatah lama.

“Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari”, masa mau ditambahin “Orang tua pun jadi wira-wiri”

SocialTwist Tell-a-Friend

Tags:

Comments are closed.