Adam & Hawa, Israel, Peterporn & DPR (Bag. 1)

Tuesday, June 8, 2010
By admin

Kenapa Adam & Hawa diusir dari surga? Pertanyaan klasik ini nyaris abadi muncul di setiap generasi yang kenal agama. Terutama agama Samawi yang menggunakan dua nama makhluk berlawanan jenis sebagai nenek moyang manusia.

Saya tak tau apa jawabannya, tapi menurut beberapa kajian agama yang lebih luwes, Adam dan Hawa tidak diusir dari surga tapi ia disempurnakan oleh Allah SWT untuk menjalani kehidupan sebagai manusia di Bumi akibat kelalaiannya melanggar perintah Tuhan. Sebagai manusia di Planet Biru ini tentu saja dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Pendek kata, segala keenakkan di surga sudah lenyap. Mereka harus bekerja keras untuk bertahan hidup, membangun sendiri surganya di Bumi, dan tentu saja pada akhirnya menanggung amanat sebagai pengelola Bumi buat anak cucunya. Yang terakhir ini perlu sebab kalau Adam dan Hawa tidak paham maka ia boleh jadi hanya hidup sebentar saja karena malah justru merusak Bumi yang notabene adalah tempat buat anak cucunya pula. Pengusiran Adam dan Hawa sumber dasarnya adalah sifat dasar dan watak Adam dan Hawa sediri yang lalai. Entah bagaimana watak ini muncul dalam diri manusia, yang jelas konon, cerita lanjutannya akan berhubungan dengan si biang kerok yang kemudian di sebut Iblis yang lantas dilaknat Allah untuk menggoda manusia , anak cucu Adam dan Hawa, karena permintaannya.

Betul Allah mengabulkan permintaan Iblis untuk ditangguhkan sampai kiamat. Iblis pun menjelma denagns egala cara menjadi penyesat manusia sampai  akhir zaman KECUALI bagi hamba hamba-Nya yang ikhlas. Bagi si Hamba Allah yang ikhlas ini godaan Iblis tidak mempan meskipun dilakukan banyak cara. Umumnya cara si Iblis  itu sangat khas  yaitu berkait erat dengan Harta, Tahta dan Wanita.

Kalau dicermati, poin-poin yang menyebabkan terusirnya Adam dan Hawa sebenarnya erat kaitannya dengan sifat Adam dan Hawa sendiri, pertama lalai, kedua sifat yang dieksitasi oleh kehadiran karakter Iblis yang mengagungkan kesombongan & iri hati karena mau disujudi yaitu Harta , Tahta dan Wanita. Kelemahan dan instrumen godaan ini yang sampai hari ini kita lihat , disini, di negeri ini. Negeri dimana dulu ditaksir menjadi Eden tempat asal usul Adam dan Hawa. Nah lho, dimana sebenarnya lokasi awal Adam dan Hawa ini?

Darimana mulainya, atau dimana lokasi Adam dan Hawa sebenarnya ketika belum memulai hidup barunya di Bumi? Sudah banyak orang mencari tempat asal Adam dan Hawa mulai dari kutub, padang pasir, dan yang terbaru tentunya teori yang menyatakan Adam dan Hawa asal usulnya dari wilayah tropis, tepatnya wilayah tanah Sunda.

Nah ini dia, tanah Sunda itu sekarang dikenal sebagai Indonesia tempat saya lahir , besar dan akhirnya banyak melihat aneka rupa ragam ulah manusia. Ujung-ujungnya diam-diam saya mulai sepakat melihat perilaku anak cucu Adam dan  Hawa di tanah asal usulnya yang ambur radul kayanya kok refleksi perilaku moyangnya dulu, Adam dan Hawa yang lalai dan akhirnya malah diusir dari Surga alias Eden alias Sunda alias Indonesia.

Kaos Boycott Israel, dicetak dengan Direct To Garment Printing, Cotton Combed s20, Rp 75.000,00 , klik pada gambar untuk memesan

Mungkinkan Bani Yahudi Itu Alien?

Mengulas perilaku watak manusia masa kini, mari kita longok yang jauh dulu tapi cukup populer disini. Kejutan pertama sebenarnya baru beberapa hari lewat. Israel, negara kecil tapi pengaruhnya pada perpolitikan dan ekonomi dunia nampaknya justru sangat besar. Saking besarnya , negara Amerika Serikat yang dianggap adikuasa dunia pun tidak berdaya. Baik secara politik, maupun ekonomi. Dengan kehebatannya menguasai dunia keuangan, dunia hiburan dan media massa , Israel diam-diam telah menjadi majikan Amerika Serikat (AS). Negara yang merdeka karena perjuangannya yang hebat dan dulu dibangga-banggakan nampaknya telah dikerdilkan oleh Israel. Bukan rahasia umum lagi kalau AS nampak seperti robot raksasa yang isinya adalah orang-orang kerdil ketika berhadapan dengan Israel.

Entah kenapa ini terjadi nampaknya banyak orang Amerika sendiri yang tidak menyadarinya, atau tahu tapi takut-takut karena bisa jadi kerjaannya tiba-tiba hilang atau bisninya mendadak ambruk. Dengan pengaruh media yang terkendalikan oleh tangan-tangan Israel, persepsi publik di AS sendiri nampaknya menilai kalau serangan Israel di Mavi Marmara oke-oke saja.

Di Israel sendiri, upaya untuk menghapus kesan anti-manusia itu kemudian mau dilakukan dengan mengerahkan “pelajar” dan “kapal pesiar” untuk memblokade lajunya kapal bantuan kemanusiaan untuk Gaza. Aneh betul operasi militer yang tidak berperikemanuiaan kok malah bersembunyi dibaliktameng anak-anak pelajar? Ide pengecut darimana ini asalnya?

Disamping pengelabuan yang licin itu, di berbagai media massa berbagai nama dan istilah pun mulai di wolak-walik. Misalnya operasi bantuan kemanusiaan untuk Gaza seringkali di gonta-ganti dan diwolak walik oleh media masa di Eropa, Amerika, maupun Asia menjadi bantuan pro-Palestina. Perubahan kata dan makna ini tentu saja menyebabkan perubahan persepsi publik yang memang disengaja untuk mempengaruhi pikiran manusia yang berkomunikasi dengan berbahasa dan berceloteh.

Hebat kan. Inipun terjadi di AS  bagaimana persepsi publik di AS sebenarnya sangat mudah dikendalikan dari media massa  yang notabene dikuasai oleh investor-investor keturunan Yahudi melalui kolumnis maupun para pakar oportunis yang sudah menjadi bagian jaringan penguasaan pikiran kaum Yahudi. Kalaupun ada yang sadar kalau kelakukan Israel menyerang kapal kemanusiaan Mavi Marmara termasuk keji dan melanggar HAM maka iapun akan didepak secara halus atau keras seperti yang terjadi pada jurnalis veteran Gedung Putih, Thomas Helen, yang dipaksa mengundurkan diri. Ini terjadi setelah dia mengkritik pedas sikap arogansi Israel terhadap relawan kemanusiaan pembebasan Gaza yang menjegal kapal bantuan kemanusiaan yang menuju Gaza. Kelakuan Israel yang lebih mirip Perompak Laut Somalia ini memang nampak aneh kalau didiamkan saja. Tapi, itulah yang terjadi, sampai hari ini AS, PBB, dan negara-negara Eropa yang ternyata telah ditodong krisis keuangan yang bermula dari Yunani nampak takuutt.

Israel melalui keyahudiannya di Amerika, di Eropa, di Asia, bahkan di berbagai negara lainnya yang umumnya dikuasai oleh orang-orang Eropa, nampak seperti Alien yang mampu merasuk ke dalam jiwa manusia. Kalau diumpamakan, orang-orang Israel seperti sosok Smith dalam film The Matrix yang diam-diam akhirnya pandangan-pandangannya menguasai semua orang. Kalau memang demikian, mungkin  mereka berasal dari Planet kelima yang sekarang jadi asteroid yang mendarat di Planet Ketiga yaitu Bumi dan pelan-pelan merasuki makhluk di Bumi untuk dijadikan makhluk seperti mereka.

Dalam film monumetal The Matrix itu digambarkan sosok bunglon yang mampu menelusup dan mengubah bentuk karakter lain yaitu Smith. Sosok Smith  tidak lain adalah sosok yang mewakili simbolisme Yahudi dan pandangannya atau sifat-sifatnya yang telah merasuk kesemua lini masyarakat mulai dari Istana Negara sampai supir taksi. Itulah Israelisasi, suatu gerakan terselubung di semua sendi kehidupan manusia yang banyak terjadi dimana-mana (Saya tidak menyebutnya Yahudi karena bagi saya Yudaisme adalah suatu karakterisasi dari watak dasar yang kemudian disebut Israelian).

Tak ada negara dimanapun di dunia ini yang luput dari cengkeraman Israelianisme, sebut saja mulai di  negara Arab, seperti Mesir, Yordania, Arab Saudi, Yaman, dan tentu saja sampai disini, di Indonesia yang belakangan ditengarai sebagai Atlantis, benua asal usul peradaban. Bahkan beberapa ahli sejarah Yahudi juga menengarai Indonesia sebagai Eden, surga yang hilang. Jadi jangan heran kalau suatu saat Indonesia pun bakal dijajah total oleh Israelianisme Yudaisme.

Seperti Mengulang Sejarah

Beberapa diantara sukarelawan kemanusiaan di Mavi Marmara adalah orang-orang Indonesia yang tergabung dalam Mer-C. Orang Indonesia atau tepatnya Urang Sunda sebenarnya sejak zaman awal Islam sudah ada yang ikut berperang di wilayah Mediterania ini. Ini merupakan info kisikan yang lamat-lamat terdengar di semilir angin sejarah dari beberapa sumber  tidak resmi dari Magribi dan lokal Sunda (tepatnya Garut, Sunda pedalaman). Kisikan ini ceceran info yang bersumber pada  kepustakaan-kepustakaan Islam di wilayah tersebut yang masih banyak disembunyikan dan belum tersentuh kajian ilmiah dari Indonesia sendiri (kebanyakan sejarah Indonesia adaalh sejarah yang direkonstruksi oleh Belanda).

Konon sewaktu peperangan awal menegakkan Islam di Mediterania, ada sosok orang Sunda yang gagah berani yang ikut bertempur dengan Sayyidina Ali. Sosok ini ditengarai adalah sosok orang Sunda yang belakangan dalam legenda lokal Sunda di Jawa Barat dikenal sebagai Kian Santang. Hanya saja dalam tradisi lokal yang mungkin sudah terdistorsikan di zaman kolonial, sosok ini sering diposisikan di tahun yang melompat ke depan sebagai sosok yang erat kaitannya dengan berdirinya kota-kota dagang di Jabar seperti Banten, Cirebon, Karawang dan beberapa daerah kota di Jabar  lainnya.

Jadi kalau orang Indonesia sekarang ini pun masih gatal untuk nimbrung di wilayah Palestina,mungkin tidak luput dari ceceran darah moyangnya dulu yang ikut bertenmpur di wilayah sana.  Serbuan ke Mavi marmara menewaskan sembilan belas (19) orang relawan yang umumnya berasal dari Turki. Mereka tewas di tangan pasukan khusus Angkatan Laut Israel  yang disebut Unit-13. Unit ini adalah unit anti teror Israel yang  sudah terlatih untuk tidak memanusiakan makhluk lainnya kecuali dirinya sendiri yang mengangap sebagai bangsa pilihan Tuhan.Jadi bisa dibayangkan, misi kemanusiaan pun oleh pemerintah Israel sudah dijungkirbalikkan menurut selera sendiri menjadi misi terorisme.

Ironisnya, meski di kitab-kitabnya selalu mengaku-aku bangsa pilihan Tuhan, sudah beribu tahun justru suku bangsa Yahudi sebagai mayoritas penghuni negara Israel itu terlunta-lunta tak jelas dimana asal usulnya (makanya kemungkinan mereka alien qqq..).

Jadi dengan mengacu pada sejarahnya sendiri akhirnya tanah Palestinalah yang dianggap cocok untuk memulai klaim asal usul Yahudi itu. Itupun menurut skenario Victorian dari Inggris yang memang dikuasai pemikian Yudaisme juga. Padahal kalau melihat bagaimana diaspora suku bangsa ini di dunia, suku Yahudi ini mirip pedagang keliling dari satu negeri ke negeri lainnya dengan meninggalkan jejak-jejak kehancuran dari negeri yang ditinggalkannya itu. Mereka justru lebih mrip burung-burung nasar atau naga-naga yang menyerbu satu wilayah ke wilayah lainnya. Atau bahkan mirip gambaran belalang alien di film buatan AS Independence Day.

Suku yang dinamakan Yahudi, nampaknya malah lebih dekat dengan kelakuan suku-suku Phoenicia atau Funisia yang terkenal licik, tukang ngibul, menjadi pedagang sekaligus perompak yang melanglang buana ke seluruh penjuru dunia di masa-masa pra-sejarah yang sejarahnya kacau balau dan penuh dongeng. Di Indonesia, informasi kecil yang menarik mengenai kedatangan para perompak asing ini justru terekam di catatan sejarah lokal dari Cirebon yaitu sejarah Wangsakerta yang menengarai adanya kelompok bajak laut yang mau merompak di Sunda. Tapi kelompok ini dikalahkan Aki Tirem (penguasa wilayah Sunda saat itu). Pedagang perompak atau bajak laut Funisia ini terkenal suka mencuri dokumen-dokumen penting yang ada di lokasi-lokasi yang dikunjunginya. Salah satunya adalah dokumen yang kelak akan melahirkan 22 huruf Funisia yang aslinya adalah Stolen Legachy yang dicuri dari Mesir. 22 huruf Phoenicia ini kemudian diadopsi oleh orang-orang Yunani menjadi huruf latin dan orang Yahudi menjadi 22 huruf Ibrani. Selanjutnya dari huruf-huruf ini lahirlah sistem huruf turunannya seperti Aramaik, Syriac, Arab dan akhirnya muncul huruf Alif Ba Jim Dal menjadi Abjad (istilah Arab dari susunan empat huruf pertama bahasa Arab) dan alfabet (istilah Yunani dari Alfa Betha Gamma dst…).

Menclak-mencklok dari satu negara ke negara lainnya, atau satu wilayah ke wilayah lainya ini mirip perilaku belalang parasit yang menghabiskan lumbung padi satu wilayah untuk kemudian beralih ke wilayah lain setelah wilayah yang didiaminya kering kerontang karena miskin atau sudah tak punya sumber daya pertanian lagi. Negara Banten di ujung barat Jawa runtuh karena Lada yang menggantikan tanaman padi. Sampai akhirnya harga lada jatuh maka Banten pun menjadi kelaparan dan miskin karena lumbung padinya musnah. Akhirnya negara Banten pun musnah karena perang saudara yang berebut harta dan tahta. Di zaman modern, tanaman Lada ini mirip Property  yang dengan rakus melibas lahan-lahan subur menjadi hutan-hutan beton.

Melewati zaman Romawi, Byzantium, Yesus Kristus, zaman Nabi Muhammad SAW, bahkan sampai zaman abad pertengahan ketika berkecamuk Perang Salib, kaum Yahudi memang seringkali digambarkan secara negatif atau menjadi buruan. Tentunya saat itu bersamaan dengan Umat Islam yang berhadapan dengan tentara salib Eropa.

Sampai Perang Dunia ke-2 pun suku ini meninggalkan jejak berdarah-darah meskipun seringkali mereka disebutkan sebagai objek penderita. Simpati sebagai obyek penderita ini menyebabkan Inggris dengan alasan geopolitik Pasca Kolonialisme kemudian menghadiahi tanah Palestina sebagai tempat mukim suku Yahudi Eropa yang menetap (saya sendiri malah punya spekulasi jika saja Rakyat Indonesia tidak matia-matian perang melawan Belanda dan sekutunya, MUNGKIN wilayah di Jawa Barat, Singapura, atau salah satu wilayah Indonesia inilah suku Yahudi akan ditempatkan. Untungnya Allah SWT berkehendak lain, meskipun dengan pengorbanan ratusan ribu Jiwa rakyat Indonesia justru berani melawan tentara Sekutu seusai Perang Dunia ke-2. Bisa dibayangkan gimana jadinya Nusantara ini kalau ada negara semacam Israel. Perang antar suku, antar pulau, dll akan terus berkecamuk. Miriplah kaya Mediterania dewasa ini). Kemudian lahirlah Israel dengan cita-cita membangun imperium Israel Raya dengan cara menghancurkan negara-negara sekitarnya.  Tentu saja ini menimbulkan jejak berdarah-darah lagi di tanah Arab di sepanjang  tahun 1940-an akhir sampai hari ini.

Memasuki tahun 50, 60, 70 sampai 90-an, perang di wilayah Palestina terus berkecamuk dengan berbagai dimensi konflik yang muncul, beberapa diantaranya meluas, memaksa mata dunia sejenak menoleh ke wilayah tersebut, lantas kemudian diredam dengan manis oleh Israel ketika pelanggaran kemanusiaan terjadi. Lembaga-lembaga dunia yang mestinya netral pun seperti PBB nampak seperti macan ompong ketika berhadapan dengan Israel. Apalagi dengan dukungan negara AS, Inggris, Perancis dan konco-konconya yang “kayanya” merasa berhutang budi pada Israel.

Dan terakhir adalah tragedi Mavi Marmara. Dengan arogansi politik dan dukungan diam-diam dari negara adidaya yang tak berdaya apa-apa menghadapi kekuasaan Israel, tentara Israel pun memberondong kapal kemanusiaan Mavi Marmara tanpa perikemanusiaan seolah-olah para relawan itu bukan lagi jenis manusia. Lantas kemudian katanya mau berlindung di balik anak-anak pelajar untuk menjadi tameng supaya tidak disebut “anti kemanusiaan”.

Ancaman Masa Depan Bagi Umat Manusia

Ini justru menunjukkan gejala yang lebih membahayakan bagi eksistensi seluruh manusia di Planet Bumi. Apalagi negara besar yang sepatutnya berlaku adil dan sering “ngomong HAM” justru mendukungnya dan menganggap tindakan terorisme negara atas kapal bantuan kemanusiaan tidak ada artinya. Padahal jelas artinya lebih berbahaya ketimbang terorisme yang dilabelkan kepada sekelompok orang semata semacam Amrozi, Imam Samudera atau Osama bin Laden.

Ancaman utama di masa depan justru adalah penguasaan hajat hidup manusia untuk eksis yang diam-diam telah dipelintir oleh negara kecil yang ternyata punya kekuasaan seperti gurita atau seperti “Smith” di film The matrix yaitu Israel sebagai negara dan Yahudi sebagai suku bangsa yang telah semena-mena menetapkan aturan main sendiri dengan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan universal yang disepakati di Planet Bumi dengan nilai-nilai seenak kepentingannya sendiri.

Pernah membayangkan bagaimana bumi dikuasai sekelompok ras yang merasa dirinya paling hebat di dunia yang dikiranya punya kuasa menetapkan hidup matinya suatu suku bangsa lain, atau manusia lainnya dengan berbagai cara, mulai dari kekerasan, perang informasi, penguasan modal terutama uang, sampai perang senjata bahkan perang nuklir?

Bagaimana pun juga watak Israel  sebagai negara dan watak negara besar yang nyalinya kecil dihadapan Israel dengan mengabaikan asas keadilan universal ini akan membahayakan kemanusiaan universal menjadi kemanusiaan kerdil alias kemanusiaan Hobbit, yaitu kemanusiaan sebatas kepentingan diri dan kelompoknya semata yang eksis. Jadi bagaimanapun juga watak Israel menjadi wujud dari kesombongan Iblis yang merasa dirinya pantas di sujudi oleh Adam & Hawa yang hanya dibuat dari tanah liat.

Itu Israel salah satu fenomena kesombongan Iblis yang ditampilkan baru2 ini untuk menyudutkan nilai-nilai kemanusiaan yang banyak diyakini oleh orang-orang yang beriman dengan lurus di Planet Bumi. Kalau imannya lembek, bengkok atau kosong sama sekali, mungkin saja akan cuek bebek melihat watak Israel ini karena memang mungkin saja mereka adalah bagian dari pada pandangan yang mengamini Israelisme yang mengagungkan kesombongan diri yang berlebihan.

(bersambung)

SocialTwist Tell-a-Friend

Tags:

Comments are closed.