Gratis Yang Ternyata Tidak Gratis
Serba Gratis memang itulah kesan yang kita tangkap ketika menggunakan Internet atau media komunikasi digital. Tapi apakah memang benar-benar gratis?
Weh, ternyata sama sekali tidak. Jadi kalau kita masih memimpikan hal gratis di dunia ini, ternyata hanya produk-produk alam saja yang masih benar-benar gratis. Tapi itupun tidak semua. Misalnya “udara” di Planet Bumi ini yang sejauh ini bolehlah disebut gratis. Di negara kita yang “kaya raya”, air justru nampak mulai tidak gratis. Terutama air minum di perkotaan yang tidak lagi mempunyai sumber air yang bersih. Kita musti bayar botolan atau galonan untuk air yang kita minum. Udarapun mulai nampak akan TIDAK GRATIS. Dengan semakin banyaknya kendaraan bermotor, maka udarapun semakin TIDAK SEHAT. Orang pun mulai ada yang menjajagan Oksigen atau membungkus mulut dan hidungnya biar tetap sehat (katanya) .
Di Internet atau mobile web kesan gratis ini muncul karena adanya transformasi metadata produk menjadi digital yang lebih unlimited. Produk digital sejatinya adalah produk imajinasi kita, pikiran kita yang memang nampaknya mampu berkhayal apa saja. Jadi, imajinasi kita adalah unlimited resourse , “unlimited content” dan produk yang dijual adalah “kemasan” atau “container” sebagai “limited resources”. Contohnya, tulisan ini adalah hasil dari imajinasi dan pikiran saya sebagai penulis yang dapat Anda baca “gratis”. Gambar T-shirt yang saya tawarkan adalah limited resource yang saya jual, yang harus Anda beli. Untuk melakukan keduanya kita menggunakan sarana digital yang berkesan gratis yaitu Internet.
Saat ini konsumsi kita terbesar saat ini adalah bit-bit atau pulsa untuk bertelepon ria atau untuk berkomunikasi. Kebutuhan akan berkomunikasi ini semakin meningkat ketika teknologi hape alias mobile device makin berkembang pesat dengan segala fiturnya. Taruh saja musik, film, gambar atau teks. Kalau dibayangkan dengan masa awal 90-an saja, hari ini konsumsi kita akan komunikasi maupun bermusik meningkat pesat. Kalau tak percaya coba saja Anda hitung sendiri berapa rupiah duit yang keluar untuk berkomunikasi ini atau untuk berinternet ria atau mendownload sesuatu. Dan itu bukan pengeluaran terputus dengan periode pengulangan yang lama. Tapi kontinu dan tersambung karena kita perlu langganan akses internet , akses mobile, atau pun beli pulsa ketengan. Kedua periode kebutuhannya semakin hari semakin cepat. Seratus ribu pulsa mungkin bisa dihabiskan hanya dalam satu hari sampai satu minggu. Jadi bisa kita hitung sendiri berap rupiah yang keluar. Hasilnya belum tentu menguntungkan tergantung bagaimana cara kita menggunakan alat komunikasi tersebut.
Kesan gratis di produk-produk yang didistribusikan via komunikasi digital karena itu sifatnya sama dengan dunia digital itu sendiri yaitu Maya alias semu. Kesan ini muncul karena kebutuhan komunikasi kita saat ini bagaikan menghirup udara , makan atau minum. Jadi, sebenarnya telah terjadi pergeseran konsumsi dimana untuk mendapatkan benda-benda atau obyek sekunder kita telah melewati jembatan semu yang sebenarnya menguras duit juga yaitu bayar alat, sarana, dan prasarana komunikasi.
Ini gambaran yang singkat saja bahwa sebenarnya apapun yang kita ambil di Internet bukan produk gratis, tapi kita justru telah membayarnya seperti halnya kita bayar telpon. Facebook misalnya tidak gratis karena kita bayar langganan atau ketengan. Google juga tidak gratis karena kita telah menggunakan bit-bit dijital yang dibayar bulanan via ISP. Kaos yang kita minta via internet pun sebenarnya tidak gratis karena bagian dari promosi yang biayanya justru kia tanggung ketika membeli produk di Internet. Biaya ini memang tersembunyi karena dibentangkan dalam suatu periode yang berhubungan dengan periode ROI dari pembuat produk tersebut.
Serba gratis juga sering kita lihat di dunia nyata, pengobatan gratis paling banyak karena umumnya kesehatan jiwa dan raga masyarakat kita memang payah. Pengobatan itu sebenarnya tidak gratis, dalam jangka waktu tertentu anda diharuskan atau diiming-imingi harus beli produk ini itu yang mujarabnya sama dengan pengobatan langsung. Kesan gratis berobat, gratis belajar, atau gratis ini itu juga hanya kamuflase saja karena seperti pepatah “ada udang di balik bakwan”. Makanya, kalau ada apa-apa yang gratis lihat dulu pasti akan menyembunyikan sesuatu. Terutama bagi yang merasa berhutangbudi karena diobati tentu akan berat hati ketika disodori alat mahal yang harus dibeli. Itulah taktik dagang “gratisan yang tidak gratis” yang saat ini sudah berkembang luas di masyarakat.
Jadi, sebenarnya jangan beranggapan ada yang gratis. Semuanya tentu ada yang harus kita bayar langsung maupun tidak, baik di dunia nyata maupun maya. Kita adalah pembayar atau bisa dikatakan penyumbang terbesar dari eksistensi Facebook, Google, Yahoo, maupun fasilitas online lainnya yang sering dianggap gratis padahal tidak. Jadi TAK PERLU MERASA BERHUTANG BUDI kepada apa yang ada di Internet karena interaksi kita sebenarnya sudah sebanding dengan apa yang telah dikeluarkan oleh kantong kita sendiri sebagai biaya kehidupan yang kita inginkan.
Saat menulis artikel ini, saya menjelajahi unlimited resources yang disebut Internet dan menemukan tulisan menarik mengenai FREE Content, silahkan baca disini : Understanding Free Content
SHUFFAH
