Bab 6. 3G Menjanjikan Manfaat Atau Hanya Sekedar Numpang Lewat

Monday, April 6, 2009
By Atmonadi
Artikel ini bagian ke 7 dari 8 dalam Blogebook berjudul Mobisel

Gencarnya promosi layanan telekomunikasi berbasis Teknologi 3G belakangan ini sebenarnya kelanjutan dari perkembangan teknologi telekomunikasi bergerak yang telah dipaparkan oleh banyak media massa empat tahun yang lalu. Salah satu ikon keberhasilan 3G tentunya DoCoMo dari Jepang yang beberapa tahun yang lalu berhasil membuka potensi pasar baru. Khususnya di negara-negara yang mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat dan kebutuhan untuk berkomunikasi yang meningkat dan menghibur tanpa dibatasi oleh kendala ruang maupun waktu.

Di Indonesia, kemampuan Teknologi 3G secara komersial mulai dikenal lebih luas baru belakangan ini saja. Setelah XL dan Telkomsel dengan gencar mempromosikan kesediaannya untuk layanan Teknologi 3G, masyarakat baru “ngeh” kembali kalau layanan yang semula hanya didengarnya dari berita dan artikel-artikel di media massa itu sudah hadir dalam kehidupan sehari-hari. Apakah masyarakat menyambutnya dengan antusias ataupun tidak masih memerlukan waktu untuk membuktikannya. Namun, sudah jelas kalau masyarakat Indonesia yang hasrat bertelekomunikasinya masih di wilayah tumbuh dan berkembang ini memendam potensi besar bagi operator telekomunikasi. Harapannya tentu saja dengan untung besar. Bagaimanakah sebenarnya prospek bisnis telekomunikasi berbasis teknologi 3G ini? Apakah memang menjanjikan seperti harapan banyak pihak, atau hanya sekedar numpang lewat?

Teknologi 3G Dan Keserbamungkinannya

Pada kenyataannya, dari sisi teknologi belum banyak negara di dunia yang berhasil menggunakan Teknologi 3G sebagai sebuah model bisnis yang menjanjikan, apalagi menguntungkan. Ini persoalan mendasar juga dalam bisnis telekomunikasi yang muncul di negara berkembang seperti di Indonesia dimana rata-rata pendapatan masyarakatnya tidak memadai untuk bermewah-mewah dengan telekomunikasi. China, Singapura, Vietnam dan beberapa negara lainnya sebenarnya masih belum begitu yakin akan tumbuh kembangnya pasar 3G. Namun, kemajuan teknologi tidak dapat dibendung. Sekali manfaat praktisnya diketahui dan menguntungkan maka ia akan muncul menjadi potensi bisnis.

Sejauh ini, pengguna alat dengan teknologi 3G di Indonesia masih memanfaatkan sarana statisnya saja seperti membuat foto dengan kamera dijital, membuat video, mendengarkan radio, melihat TV bergerak, atau hanya sekedar mendengar MP3. Fasilitas dinamisnya seperti melakukan kirim mengirim foto, video streaming, audio streaming atau yang lainnya masih minim. Jadi, jelas ada potensi yang bisa berkembang dan menguntungkan operator 3G meskipun baru di wilayah tradisional. Minimal potensi dasarnya semisal menggunakan ponsel 3G untuk TV bergerak.

Kalau kita cermati lebih jauh, semakin maraknya video porno yang diedarkan dari satu ponsel ke ponsel lainnya yang berkemampuan 3G juga mengindikasikan bagaimana masyarakat berperilaku dengan peralatan canggihnya. Meskipun itu merupakan dampak negatif, tapi jelas ada pasar yang masih bisa dikembangkan dan diarahkan di Indonesia supaya semua kemajuan di bidang telekomunikasi dapat memberikan manfaat positif yang lebih nyata.

Antara Jepang dan Indonesia

Teknologi 3G baru mendapat gema keberhasilan dari pengalaman Jepang dengan DoCoMo – nya di sekitar awal 2000-an. Meskipun demikian, keberhasilan DoCoMo bersifat lokal dan sangat dipengaruhi oleh budaya dan kebiasaan masyarakat Jepang berkomunikasi, disamping daya beli dan serta kesejahteraannya. Sehingga keberhasilannya tidak dapat dijadikan patokan umum.

DoComo sebenarnya hanya menunjukkan satu kenyataan bahwa keberhasilan 3G bukan semata-mata karena kecanggihan aplikasi serta teknologinya. Tapi sangat dipengaruhi oleh budaya dan kebiasaan masyarakat. Dengan demikian, Docomo sejatinya menjadi faktor yang menentukan terjadinya tranformasi kebiasan lama masyarakat Jepang dari kebiasan yang sudah ada yaitu kebiasan mengisi waktu luang dengan membaca diatas kertas menjadi membaca dan bermain dengan perangkat mobil.

Masyarakat Jepang sudah dikenal sebagai masyarakat dengan minat baca yang tinggi, mempunyai mobilitas kerja tinggi dengan sarana transportasi urbannya, dan banyaknya waktu luang dalam perjalanan yang digunakan untuk membaca. Jika dulu mereka membaca komik, koran atau majalah, kini mereka memain-mainkan ponsel.

Dewasa ini, di Indonesia kebiasaan memainkan ponsel mulai muncul di angkot-angkot, kereta api dan bis-bis kota. Namun, umumnya pengguna ponsel 3G atau yang ponsel dengan aplikasi yang lebih maju hanya menggunakan fitur tradisionalnya saja semacam berkirim SMS, mendengarkan radio, memutar MP3, melihat acar TV di layar ponselnya, atau hanya sekedar memainkan game. Kebiasaan ini merupakan kebiasaan di kantor dan di rumah yang dipindahkan di perjalanan! Jadi, ini juga bukan kebiasaan baru, tapi kebiasan yang berpindah tempat dan muncul karena alat, teknologi serta layanannya tersedia.

Umumnya sarana angkutan masal di Indonesia tidak nyaman untuk melakukan aktivitas personal. Selain itu, kebiasaan masyarakat yang dapat mendukung industri telekomunikasi termasuk rendah. Misalnya, minat baca yang rendah. Namun, kebiasaan mendengar, melihat, bermain, menghibur diri dan bergaya di masyarakat Indonesia cukup tinggi. Karena itu, fungsi ponsel dengan sarana fitur canggihnya seperti ponsel 3G cenderung hanya digunakan untuk bergaya di depan kamera, mendengar radio, TV bergerak dan memutar MP3 atau memainkan game. Sedangkan fitur komunikasi yang interaktif nampaknya masih jarang digunakan kecuali sebatas mengirimkan SMS saja atau sekedar memindahkan data rekening antar bank semata.

Aktifitas itu tentunya belum bersentuhan langsung dengan layanan mobil yang diharapkan dapat mendongkrak pendapatan karena sifatnya kontemporer. Layanan tersebut tentunya menjadi layanan yang mudah diakses dan murah bagi penggunanya yaitu sarana informasi multimedia yang ekspresif dan cepat. Jadi, sejauh ini, Teknologi 3G yang disediakan bagi masyarakat Indonesia fungsionalitasnya belum optimal dimanfaatkan, khususnya sisi interaktifitas yang dinamik dengan segala kemungkinannya.

Dengan kata lain pengguna ponsel yang mendukung teknologi 3G di Indonesia sebenarnya pengguna ponsel tradisional yang diam, tidak berinteraktivitas dinamis, tapi hanya pengguna yang memindahkan aktivitas rumahnya, aktivitas waktu luangnya, aktivitas kesendiriannya di perjalanan yang memang melelahkan dan menjemukan, sekaligus tidak nyaman.

Potensi, Fakta Dan Harapan

Potensi 3G di Indonesia sebenarnya dapat diarahkan sebagai suatu fasilitas yang digunakan untuk meneruskan aktivitas produktif yang semula dilakukan di kantor, warnet atau rumah menjadi aktivitas produktif yang dilakukan dimana saja dan kapan saja. Itu merupakan harapan bagi sebagian operator dewasa ini.

Faktanya, karena biaya yang mahal, umumnya yang terjadi adalah kebiasan statik yang dipindahkan yaitu bermain dengan ponsel baik untuk membaca file, membuat foto, video, main game, mendengarkan radio, atau musik MP3. Kemampuan bertelekomunikasinya, masih belum banyak digunakan kecuali pertukaran file yang berbau pornografi.

Nah, mitos mahal ini yang pertama kali harus bisa didobrak oleh operator sehingga kita melihat hari ini perang tarif besar-besaran untuk membangun kesadaran masyarakat bahwa bertelekomunikasi itu murah. Termasuk ber 3G itu murah. Momen pulang mudik, juga merupakan momen yang tepat karena dengan ponsel 3G kisah-kisah mudik dapat direkam dengan berbagai format, baik teks, video, audio maupun foto.

Kemana hasil rekaman ini dipamerkan? Sebagian kecil tentunya di komunitas jejaring sosial yang mestinya berhubungan dengan operator 3G. Disini sebenarnya ada harapan untuk membuka peluang bisnis baru yang dapat dikembangkan karena digunakannya teknologi baru 3G. Akan tetapi, sebagian besar pengguna ponsel 3G mungkin hanya menyimpan hasil rekamannya sebagai koleksi pribadi semata dan tidak pernah dikomunikasikan dengan pengguna 3G lainnya. Lagi-lagi, ini merupakan peluang bisnis baru yang muncul dari dampak sampingan penggunaan 3G yang tentunya masih perlu dieksplorasi lagi.

Peluang dan Tantangan 3G Di Indonesia

Ketika kita berbicara tentang industri, sejatinya yang kita omongkan itu bukan hanya pemerintah dan pelaku bisnis semata. Namun, pengguna atau konsumen serta perubahan perilakunya juga merupakan bagian dari Industri. Sampai hari ini, kita masih sepakat bahwa konsumen adalah raja. Maka industri telekomunikasi masa depan pun masih berpijak pada kebutuhan dan kemampuan konsumen yang nyata.

Dengan segala kemungkinan yang dapat muncul dari dijitalisasi kehidupan, teknologi 3G serta perangkat pendukungnya semestinya bisa menjadi pendorong munculnya cara-cara bertelekomunikasi baru. Hal ini tentunya diiringi dengan suatu kemungkinan untuk munculnya bisnis-bisnis baru dengan model yang berbeda dengan sebelumnya. Demikian juga akan muncul tuntutan lebih tinggi atas kualitas layanan yang dapat diandalkan dan layanan yang dapat dipertanggugjawabkan baik secara bisnis maupun dampak sosialnya. Semua itu merupakan tantangan berat penerapan teknologi 3G maupun teknologi basis dijital lainnya di masa depan karena yang dijadikan tumpuan sebenarnya harapan untuk mendapatkan manfaat yang besar bagi konsumen.

Pada akhirnya, 3G dan semua bentuk kemajuan telekomunikasi lainnya, keberhasilannya akan sangat bersandar pada kreatifitas untuk menciptakan cara-cara berkomunikasi baru, dan kreatifitas cara menggunakan pengetahuan yang mudah diakses,  lebih bermanfaat dan tentunya menyenangkan. Jadi, sisi kemajuan teknis yang sifatnya linear maupun eksponensial, harus diimbangi dengan sisi kreatifitas pengembangan produk dan pemasarannya yang lebih dinamis tapi tepat guna. Sasarannya adalah menciptakan kebutuhan yang mungkin diciptakan dimana orang pada akhirnya merasa perlu bukan pada teknologi dan alatnya semata, tapi pada aspek manfaat dari cara-cara komunikasi baru yang dimungkinkan untuk bisa dilakukan. Jika tidak ada upaya yang lebih kreatif dari operator untuk membuka peluang baru bagi pengguna layanan 3G, maka boleh jadi di Indonesia 3G hanya sekedar teknologi yang numpang lewat saja sampai akhirnya teknologi baru yang lebih diterima masyarakat muncul secara alamiah seperti halnya SMS yang dulu melengserkan WAP.

Atmnd114912, Bekasi, 29/9/2007

sebelumnya dipublikasikan di http://atmoon.multiply.com/journal/item/179/3G_Menjanjikan_Manfaat_Atau_Hanya_Sekedar_Numpang_Lewat

SocialTwist Tell-a-Friend

Tags:

Comments are closed.