Heboh Harta Karun 1000 Tahun & Misteri Kristal Dinasti Fatimiyyah Mesir

Batu Kristal Dinasti Fatimiyyah

Batu Kristal Dinasti Fatimiyyah, bagian dari harta karun Pantura Jawa

Hari ini, 5 Mei 2010, rencananya akan dilakukan lelang dari peninggalan harta karun dari kapal karam yang ditemukan di pantura Cirebon. Lelang akan dilakukan  pukul 14.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB yang berlokasi di Ballroom gedung Mina Bahari II Kementrian kelautan dan perikanan Jl. Medan Merdeka Timur No. 16 Jakarta pusat. Sekurangnya sekitar 271.381 artefak akan dilelang dengan nilai jual kemungkinan akan mencapai 750 milyar samai  trilyun rupiah lebih. Yang menarik sebagian barang yang dilelang nampaknya pernah digangsir secara ilegal.

Heboh mengenai harta karun berusia 1000 tahun sebenarnya memang sudah sejak tahun lalu terdengar. Bahkan sejak tahun 2004, Sultan Kanoman XII Sultan Raja Muhammad Emiruddin memprotes Departemen Kelautan dan Perikanan dan PT Paradigma Putra Sejahtera yang mengambil harta karun di 60 mil dari pantai utara Cirebon. Menurut beliau, “Setahu saya wilayah tersebut masih merupakan bagian dari perairan Kabupaten Cirebon. Tetapi kenapa pemerintah daerah tidak ikut dilibatkan?” tanya Sultan Emiruddin, Kamis (25/11/2004, sumber tempo interaktif).  Laporan Kantor Berita Antara menyebutkan pada sekitar bulan Juli 2009 petugas patroli TNI AL mencurigai kapal tanpa awak yang mengapung di perairan sekitar Ciasem Blanakan Kabupaten Subang Jawa Barat. Dari dalam kapal tersebut petugas menemukan ribuan benda kuno berupa mangkok dan piring peninggalan Dinasti Ming.

Harta Karun Yang Mau Dilelang

Namun, belakangan ini berita Harta Karun berusia 1000 tahun semakin santer karena mendekati waktu lelang. Kapal karam yang ditemukan mengangkut berbagai benda , mulai dari keramik China sampai kristal Dinasti Fatimiyyah yang berkuasa di mesir sekitar abad ke-10 sampai ke-11. Jadi kalau dihitung-hitung, usia kapal yang ditemukan itu ditaksir sekitar 1000 tahun. Setidaknya ini taksiran garis lurus berdasarkan temuan benda-benda berbagai rupa seperti keramik, ornamen-ornamen logam, dan benda-benda kristal yang ditaksir berasal dari abad ke-10 dan ke-11. Apakah kapal itu seusia dengan usia bendanya atau tidak sejauh ini tidak ada informasi yang akurat. Bisa jadi kapal itu usianya lebih muda tapi benda-benda yang diangkutnya lebih tua. Namun, dengan asumsi garis lurus (linier) kita akan meninjau kasus Harta Karun yang ditemukan di perairan wilayah pantai Utara Cirebon ini sama dengan usia benda yang dibawanya. jadi, setidaknya usia kapal itupun sekitar 1000 tahun atau kapal periode abad 10 sampai 11 Masehi (900 M sampai 1099 M).

Dari temuan benda-benda kuno yang berasal dari kapal karam itu, saya justru tertarik dengan artefak-artefak kristal dari dinasti Islam Fathimiyyah yang berdiri di Mesir di sekitar abad ke-10 sampai 11 Masehi. Bayangkan, selama ini teori masuknya Islam ke Indonesia masih simpang siur. Ada yang mengatakan dari abad 14, 15 bahkan ada bukti juga sejak awal abad ke-7 pedagang muslim sudah memasuki wilayah Nusantara. Temuan artefak kristal dinasi Fatimid dari abad ke-10 sampai ke-11 semakin memperkuat dugaan kalau pedagang muslim baik dari China maupun wilayah Arab dan Magribi (Mesir di benua Afrika) sudah lama menjalin kontak dengan kota-kota dagang di Nusantara. Muatan barang yang ditemukan menunjukkan kelas sosial pemesan barang yang notabene pastilah kalangan yang berada. Yang menarik artefak kristal dari dinasti Fatimid termasuk benda-benda seni kelas tinggi yang tidak saja mencitrakan keindahan ekternal dari suatu benda tapi juga mencitrakan keindahan interior dimana nilai-nilai keindahannya semakin tinggi jika dibumbui dengan aspek-aspek esoteris bagaimana suatu benda dibuat.

Timbul pertanyaan di benak saya menyangkut benda kristal dinasti Fatimiyyah ini, siapakah pemesannya? Siapakah dinasti Fatimiyyah? Apa peran kristal dalam peradaban Fatimiyyah? Darimana sebenarnya kapal itu dan mau kemana ? Serta pelabuhan mana asal dan tujuannya mengingat pelabuhan pantai Utara Jawa yang dianggap tua seperti Cirebon , Banten maupun Sunda Kepala eksistensinya baru dikenal sekitar abad 15 Masehi. Sedangkan benda-benda itu usianya 1000 tahun kalau kita ambil patokan berdirinya dinasti Fatimiyyah sekitar 900 sampai 1100 Masehi? Lantas, siapakah saudagar besar pemilik kapal ini?

Pelabuhan Pantura Jawa Abad 10 dan 11

Pelabuhan di Jawa yang lamat-lamat telah eksis disekitar abah 10 dan 11 paling banter adalah pelabuhan Bantendi Jawa Barat, Gresik dan Tuban. Pelabuhan yang berada di Jawa Timur ini berada di sekitar sekitar selat Bali dan Jawa dan telah lama dikenal dikenal sebagai pelabuhan dagang yang terkenal.

Penanggalan tertua mengenai eksisnya pelabuhan di Jawa Timur bisa ditemukan di penanda tahun yang tertera di nisan Siti Fatimah binti Maimun alias Dewi Swara di Desa Leran, Kecamatan Manyar, Gresik, Jawa Timur yang bertanda sekitar abad ke-11 (antara 1082 sampai 1102 M, tergantung intepretasi) . Mengenai siapakah Fatimah binti Maimun yang ornamen makamnya mencitrakan ciri khas perpaduan budaya China-India-Persia ini silahkan baca tulisan saya mengenai pemecahan sandi Kronologi Nusantara  yang berjudul “Dechipering Nisan Leran Bagian Pertama” yang saya publikasikan tahun 2009 yang lalu.

Jadi, kalau merujuk  beberapa temuan sejarah yang sampai hari ini masih kita lihat dan masih didiskusikan kalangan arkeolog Nusantara, kapal dagang yang membawa barang-barang mewah tersebut sezaman dengan waktu hidup Fatimah Binti Maimun yang nampaknya sangat dihormati di Kawasan Timur Jawa. Apakah armada ini milik Siti Fatimah Binti Maimun yang begitu dihormati? Entahlah, saya tak mau berspekulasi lebih jauh karena diperlukan penelitian yang lebih serius ketimbang sekedar penelitian amatir yang sifatnya hobi saja. Namun, kuat dugaan antara kapal yang harta karunnya melimpah dengan barang buatan Dinasti Song dan produk budaya dinasti Fatimiyyah ini mempunyai ciri yang kuat berhubungan dengan ciri dan ornamen di makam Fatimah Binti Maimun yang nampak sangat dihormota di Gresik dan hidup semasa dengan usia kapal tersebut yaitu sekitar 1000 tahun yang lalu.

Siapakah Dinasti Fatimiyyah?

Al Azhar dibangun oleh Dinasti Fatimiyyah

Yang paling saya ingat mengenai dinastiFatimiyyah maka merekalah yang sebenarnya membangun kota Cairo dan Universitas Al Azhar. Ini kebetulan saja karena saya baru membaca-baca buku alumni al-Azhar dan membaca riwayatnya. Universitas al-Azhar yang sampai hari ini masih eksis dan menjadi pusat p engaruh peradaban Islam dalams eribu tahun terakhir memang hasil karya dinasti Fatimiyah yang memerintah di Mesir sekitar tahun 910 -1171 Masehi.

Menurut Wikipedia Indonesia, Fatimiyah, atau al-Fāthimiyyūn (bahasa Arab الفاطميون) ialah penguasa Syiah yang berkuasa di berbagai wilayah di Maghreb, Mesir, dan Syam dari 5 Januari 910 hingga 1171. Negeri ini dikuasai oleh Ismailiyah, salah satu cabang Syi’ah. Pemimpinnya juga para imam Syiah, jadi mereka memiliki kepentingan keagamaan terhadap Isma’iliyyun. Kadang dinasti ini disebut pula dengan Bani Ubaidillah, sesuai dengan nama pendiri dinasti.

Dinasti Fatimiyyah semula bangkit di Tunisia, namun kemudian di sekitar tahun 972 M masuk ke Mesir dan beribukota Kairo. Bahkan boleh dibilang dinasti Fatimiyyah lah yang membangun Kairo sebagai suatu kota besar dengan universitas Al-Azhar nya yang terkenal sampai hari ini.

Di masa Fatimiyah, Mesir menjadi pusat kekuasaan yang mencakup Afrika Utara, Sisilia, pesisir Laut Merah Afrika, Palestina, Suriah, Yaman, dan Hijaz. Di masa Fatimiyah, Mesir berkembang menjadi pusat perdagangan luas di Laut Tengah dan Samudera Hindia, yang menentukan jalannya ekonomi Mesir selama Abad Pertengahan Akhir yang saat itu dialami Eropa.Dari pejelsan ini tentunya bis adimaklumi kalau armada dagang dinasti Fatimiyyah telah merambah wilayah Asia Tenggara sampai ke negeri China.

Berdirinya dinasti Fatimiyah dimulai tahun 909 M ketika  ˤAbdullāh al-Mahdī Billa melegitimasi klaimnya melalui keturunan dari Nabi Muhammad dari jalur Fāthimah az-Zahra dan suaminya ˤAlī ibn-Abī-Tālib, {Imām Shīˤa pertama. Oleh karena itu negeri ini bernama al-Fātimiyyūn “Fatimiyah”.

Dengan cepat kendali Abdullāh al-Mahdi meluas ke seluruh Maghreb, wilayah yang kini adalah Maroko, Aljazair, Tunisia dan Libya, yang diperintahnya dari Mahdia, ibukota yang dibangun di Tunisia.

Fatimiyah memasuki Mesir pada 972, menaklukkan dinasti Ikhshidiyah dan mendirikan ibukota baru di al-Qāhirat “Sang Penunduk” (Kairo modern)- rujukan pada munculnya planet Mars. Mereka terus menaklukkan wilayah sekitarnya hingga mereka berkuasa dari Tunisia ke Suriah dan malahan menyeberang ke Sisilia dan Italia selatan.

Tak seperti pemerintahan di sama, kemajuan Fatimiyah dalam administrasi negara lebih berdasarkan pada kecakapan daripada keturunan. Anggota cabang lain dalam Islām, seperti Sunni, sepertinya diangkat ke kedudukan pemerintahan sebagaimana Syi’ah. Toleransi dikembangkan kepada non-Muslim seperti orang-orang Kristen dan Yahudi, yang mendapatkan kedudukan tinggi dalam pemerintahan dengan berdasarkan pada kemampuan (pengecualian pada sikap umum toleransi ini termasuk “Mad Caliph” Al-Hakim bi-Amrillah). Dinasti Fatimiyyah terkenal dengan upayanya untuk mencapai pengetahuan tertinggi dan toleransi yang bebas. Berdirinya universitas Al Azhar merupakan salah satu mahakarya peradaban yang sampai ini masih kita lihat dengan berbagai cabangnya di berbagai negara. Karen upayanya ini, diansti Fatimiyyah mampu menyumbangkan karya seni dan budaya yang monumental dan berciri khas. Salah satunya adalah benda seni berbasis kristal indah dan bernilai tinggi.

Kristal Dinasti Fatimiyyah

Kristal Dinasti Fatimid dibuat sekitar 1000-1050 M, bentuk badan ikan

Dinasti Fatimiyyah menghasilkan berbagai kerajinan yang menarik baik dibidang tektile, keramik, benda seni dari kayu, jewelry, benda logam, dan batu kristal. Temuan benda kuno di Indonesia yang rencananya mau dilelang hari ini pun menunjukkan bagaimana karya seni dan budaya dinasti ini sudah sampai di Nusantara di abad ke-10 dan ke-11. Dengan kata lain, konsumen benda ini pun ada di Jawa yang saat itu (periode abad 10 sampai 11) sejarahnya masih sangat buram. Yang menegaskan eksistensi Islam di Jawa saat itu adalah penanda Nisan Leran yang saya sebut tadi.

Fatimid Rock Crystal Ewer, sumber simerg.org

Sampai hari ini, peninggalan benda seni dinasti Fatimiyyah sangat terbatas. Salah satu sebab kenapa benada-benda ini sangat terbatas karena mungkin sudah dilebur atau hancur sama sekali. Sebagian besar yang ditemukan di berbagai dunia umumnya berkisar antara tahun 1067 sampai 1072 Masehi.

Benda kristal dinasti Fatimid menurut pakar sejarah seni di situs simerg.org merupakan salah satu mahakarya peradaban Islam yang paling indah. Ornamen yang diterakan di batu kristal tersebut menunjukkan karya seni dengan citarasa tinggi yang mengaitkan berbagai aspek eksoteris dan esoteris. Salah satu ciri khasnya adalah bentuk-bentuk batu kristal yang umumnya mengambil model “ikan”. Iklan dalam tradisi esoteris sudah dikenal sejak peradaban Indus dan Harrapan Mahenjodaro sebagai simbol kehidupan. Salah satu script tulisan dari peradaban indus adalah gambar ikan.

Indus Script

Dalam tradisi sufisme, ikan adalah simbologi mengenai kehidupan yang alami, naif, bahkan terkenal suatu peribahasa sampai hari ini kalau yang menyadari eksistensi air paling akhir adalah ikan. Jadi, simbol ikan merupakan simbol kehidupan natural sampai akhirnya si ikan mungkin akan terpancing atau malah dimakan oleh buaya atau binatang buas lainnya sebagai simbologi nafsu manusia manakala nafsu serakah menghinggapinya. Dalam tradisi agama Hindu pun, ikan menjadi simbologi kisah-kisah mistik keagamaan. Ikan menjadi simbol kesadaran lurus yang bersih namun seringkali menjadi sangat naif sehingga tertipu dengan mudah atau mengajukan pertanyaan naif “Dimanakah air?”.

Karya seni kristal dinasti fatimid tidak jarang juga berisi tulisan atau inkripsi dari Iman-iman Syiah Ismailiyah. Salah satu peninggalan yang terkenal terdapat di Basilica venesa yang berisi tulisan Imam Fatimid , Al Aziz yang hidup sekitar 975-996 Masehi. Batu kristal lainnya berisi tulisan Imam al-Hakim yang ada di Chatedral of Fermo, Italia. Beberapa batu kristal peninggalan dinasti Fatimid juga ditemukan telah menajdi koleksi museum-museum besar di Eropa.

Seni kristal dinasti Fatmid tidak lepas dari penafsiran mereka mengenai ayat-ayat al-Qur’an. Makanya,s elain sebagai benda seni seringkali karya batu kristal dinasti fatimid sarat akan simbol-simbol esoteris relijius agama Islam. Dalam al-Qur’an Surat Ash-Shafaat (no 37)  ayat 45-47 Abdullah Yusuf Ali menterjemahkan dalam bhs Inggris :

“Round will be passed to them a cup from a clear-flowing fountain,
crystal-white, of a taste delicious to those who drink (thereof),
free from headiness; nor will they suffer intoxication therefrom.”

Rujukan dari Al Qur’an tersebut nampaknya menjadi salah satu sebab kenapa kristal dalam bentuk gelas sangat populer di dunia Islam di masa lalu, khususnya dinasti Fatimiyyah yang baru-baru ini peninggalannya ditemukan diperairan pantura Cirebon, Jawa Barat.

Share/Save

Comments are closed.