December 29, 2009

Kata-kata Kunci

Sebenarnya akhir tahun ini lagi males nulis di blog. Makanya, bulan Desember ini baru mulai on pas pertengahan bulan. Itupun hanya berita basa-basi saja yang lagi ramai dibicangkan.

Hari ini pun masih begitu. Newsmaker-nya masih Presiden SBY yang nampaknya kesal dengan munculnya buku “Membongkar Gurita Cikeas”. Judulnya yang membawa-bawa nama binatang berjenis “Gurita” mengingatkan saya dengan dunia fabel yang belakangan ini ramai dibincangkan orang mulai dari Cicak dan Buaya, Semut, Monyet saudara Hanuman yang namanya kebetulan Anggodo, dan belakangan ini Gurita.

Entah kenapa, membaca judul buku yang ditulis George Junus  Aditjondro itu saya jadi teringat gambar Gurita di buku lama yang bersampul coklat. Judulnya “Kapitalisme Semu Asia Tenggara” karangan Yoshihara Kunio, seorang peneliti Jepang. Apa yang dibincangkan di buku terbitan LP3S tahun 1990-an itu?

Buku itu sebenarnya ditulis tahun 1988, sejak terbitnya yang pertama kali pada 1988, buku ini telah memancing perhatian luas di lingkungan akademisi, politisi, pengusaha, kelompok-kelompok oposan, dan kalangan penguasa Asia Tenggara kontemporer. Daya pikatnya terutama bukan pada analisa akademisnya tetapi pada aura politis yang ditimbulkannya karena ia berhasil menunjukkan adanya perkembangan aneh kapitalisme di negeri-negeri itu.

Didasarkan pada penelitian lapangan selama lebih kurang lima belas tahun sejak 1970, buku ini mengungkapkan banyak data tentang munculnya apa yang disebut Kapitalisme Ersatz di lima negara Asia Tenggara, yakni Filipina, Singapura, Muangthai, Malaysia dan Indonesia. Yoshihara Kunio, pengarang buku ini, menyimpulkan bahwa apa yang terjadi di lima negara Asia Tenggara itu sangat berbeda dengan berlangsung baik di Jepang maupun di Barat.

Saya ingat betul buku itu juga sempat dilarang, tapi untungnya sempat beli. Ketika membincangkan Indonesia, yang disorot adalah gurita bisnis Keluarga Cendana yang legendaris dengan yayasan-yayasannya dan bisnis ABRI. Buku itupun setelah saya baca, beredar dari satu kamar kos ke kamar kos teman lainnya. Maklum, masih mahasiswa dan bukunya waktu itu sulit dicari.

Buku GJA yang judulnya Membongkar Gurita Cikeas mengingatkan saya pada bulu lawas itu. Hanya saja, sekarang dikaitkan dengan skandal Bank Century yang lagi marak dibincangkan di berbagai lapisan masyarakat. Konon, kabarnya buku GJA itu sampai siang ini mendadak hilang di pasaran karena langsung ludes. Entahlah, melihat ramainya animo orang membincangkan buku itu saya jadi males mau nyari. Pastilah sudah ludes karena orang sedang panas-panasnya membincangkan buku tipis itu.

Banyak pihak yang mencak-mencak kaya monyet habis makan cabe rawit dengan terbitnya buku yang membuah heboh Indonesia  itu. Meskipun nampak kalem, nampaknya Presiden SBY juga senep dengan buku yang bersangkutan sehingga iapun melontarkan serangan balik dengan kata kunci “Fitnah”. Lagi-lagi kata ini mengingatkan saya dengan peristiwa masa lalu. Tapi waktu itu saya masih tele-tele baru lahir yaitu G30S PKI yang sering di sebut juga sebagai Fitnah.

Hari ini tanggal 28 Desember 2009, saya jadi seperti mengembara dari tahun 1965, 1990, sampai 2009 yang bakal berakhir beberapa hari lagi dengan kata kunci yang nyaris sama.

BONGKAR kata kunci yang dinisbahkan kepada Iwan Fals, GURITA kata kunci yang dinisbahkan pada buku Yoshihara itu, CIKEAS yang dinisbahkan kepada lokasi kediaman keluarga Presiden SBY, FITNAH yang dinisbahkan kepada peristiwa G30S PKI, dan Bank Century yang dinisbahkan pada kasus yang sedang marak akhir-akhir ini. Rupanya, dari zaman dulu sampai sekarang bangsa kita ini memang senang betul menggunakan kata-kata kunci yang pernah populer.

SocialTwist Tell-a-Friend