November 3, 2011

Banjir Kota Jakarta

Ia kembali, tiap tahun setiap musim hujan tiba. Banjir namanya , tidak asing, malah sangat familiar bagaikan sanak saudara yang berkunjung tiap lebaran tiba.

Kali ini,menurut lansiran pihak yang berwenang, Jakarta , Ibukota NKRI terancam banjir besar lima tahunan. Banjir besar lima tahunan pertama yang melanda Jakarta saat masih bernama Batavia tercatat pada tahun 1621, dan berulang pada tahun 1654, 1671, 1699, 1711, 1714, 1854, 1872, 1893, 1918, 1930, 1942, 1976, 1996, 2002, 2007, hingga kini (lihat Sejarah Banjir Batavia ). Tentu saja tahun 2011/2012 ditaksir bakal menjadi tahun banjir lima tahunan. Jakarta sendiri setidaknya dialiri oleh 13 anak sungai yang secara periodik melewati kota Jakarta menuju ke Teluk Jakarta.

Sebelum Jakarta jadi ibukota NKRI, kisah banjir di kawasan ini sudah sangat terkenal. Bahkan ada indikasi sejak zaman kerajaan Sunda , wilayah yang sekarang jadi Jakarta adalah wilayah banjir.

Ketika Sunda Kelapa muncul menjadi pelabuhan yang ramai , banjir pun nampaknya menjadi ciri utama. Makanya, ketika Belanda menjadikan Sunda Kelapa menjadi basis perdagangannya, kanal-kanal dibangun untuk mengendalikan banjir. Sisa peninggalannya sekarang bisa di lihat di kawasan Kota tua Jakarta sampai Mall Mangga Dua.

Bahkan di Mangga Dua saluran pengatur banjir pun menjadi landasan gedungnya. Walhasil, kalau daerah Mangga Dua banjir , air yang bau dan kotorpun muncul dari bawah , yaitu dari bekas kanal lama.

Dulu Batavia dan kanalnya dipuja puji di Eropa dengan berbagai julukan: Kota Surga Abadi; Kota Paling Nikmat di Hindia; Sang Ratu Timur.

1728 – 1778 dibangun sistem drainase dengan pintu air (kini sudah hilang) dan bendungan (Katulampa dan Empang) untuk mengendalikan air ke Batavia melalui kanal Kali Baru Timur dan Barat. Namun ketika populasi meningkat, kanal menjadi sumber polusi dan malaria, Batavia pun mulai tak nyaman, dan mendapat julukan baru: Kuburan Belanda.

Daendels merintis exodus ke Weltevreden (Departemen Keuangan, Lapangan Banteng) pada 1809. Kastil Batavia dan tembok kota dihancurkan untuk bahan bangunan istana baru. Daerah Kota pun bebas dihuni Indo, Cina, dan Mardijkers (budak-budak merdeka).
1845 dibangun kanal di Grogol, Kali Karang, Ciliwung dan Gunung Sahari. Beberapa area persawahan diubah menjadi situ, seperti Situ Gintung di Ciputat. Untuk penggelontoran air di musim kemarau, dibangun Banjir Kanal Barat dan Pintu Air Manggarai pada 1918 – 1922. Saluran banjir ini membentang dari Kelurahan Manggarai hingga kawasan Muara Angke sepanjang 18,5 kilometer. Sebelumnya, Kanal Banjir Barat itulah yang selama ini bersusah payah meredam banjir bandang Jakarta. Toh, kemampuannya terbatas karena hanya bisa menaklukkan air bah sampai 370 meter kubik per detik.

Pintu Air Manggarai

Untuk melengkapi Kanal Banjir Barat, Proyek Kanal Banjir Timur dicanangkan sejak tahun 1973. Proyek itu mengacu pada masterplan buatan Netherlands Engineering Consultants (Nedeco). Rancangan ini didetailkan lagi lewat desain Nippon Koei dan Japan International Corporation Agency pada 1997. Namun penggalian kanal pertama kali baru dimulai pada 2003.

Total biaya yang dihabiskan, sejauh ini, mencapai Rp 4,9 trilyun. Umumnya digunakan untuk biaya konstruksi dan pembebasan lahan. Kanal sepanjang 23,5 kilometer itu dimulai di Kelurahan Cipinang Besar, membelah kawasan timur Jakarta ke arah utara, hingga berakhir ke laut di kawasan Kelurahan Marunda, Jakarta Utara.

Kanal Banjir Barat dan Kanal Banjir Timur akan berpasangan, bahu-membahu mencegah banjir tahunan Jakarta. Kanal Banjir Timur didesain untuk menjaga lima daerah aliran sungai yang mengalir di Jakarta. Yakni Sungai Cipinang, Sunter, Buaran, Jatikramat, dan Cakung. Dibandingkan dengan Kanal Banjir Barat, Kanal Banjir Timur memang mempunyai daya tampung lebih besar, dengan debit air hingga 390 meter kubik per detik. Selain itu, Kanal Banjir Timur juga dilengkapi dengan sistem kolam sedimen berukuran 300 x 350 meter di kawasan Ujung Menteng.

Proyek penanggulangan Banjir Jakarta memang nampaknay menjadi obsesi Gubernur Fauzi Bowo . Gagasan ini merupakan gagasan spektakuler untuk membangun tanggul raksasa di kawasan Jakarta Utara. Upaya ini dalam rangka menyelamatkan Jakarta dari bahaya banjir. Topografi Jakarta yang 40 persen dibawah air laut pasang, memang menjadi rentan terhadap banjir. Bahkan dapat dikatakan bahwa sejatinya Jakarta adalah Kota Banjir.

 

Disarikan dari Berbagai Sumber

SocialTwist Tell-a-Friend
October 27, 2010

KITA PERLU CPAR-EMS

Belakangan ini bencana beruntun yang cukup mengejutkan melanda Indonesia. Meskipun sudah berkali-kali dalam sepuluh tahun terakhir ini Negeri Indonesia ini sering disebut negeri bencana, tapi toh tetap saja sebagian besar rakyat kita ini kesadaran diri-dan-lingkungan-nya tertutup hinggga jadi panik ketika bencana melanda. Betul saudara, panik seolah-olah kita belum pernah melihat atau mengalami bencana.

Beberapa hari yang lalu kita melihat bencana Wasior di Irian yang dilanda air bah berlumpur yang menggelontorkan gelondongan-gelondongan kayu dari hutan dan gunung di belakangnya. Lantas, yang menjadi rutinitas warga Ibukota tiap tahun, banjir Kota Jakarta yang membuat macet dimana-mana. Sehari kemudian gempa besar skala 7,2 melanda Kepulauan Mentawai disusul dengan Tsunami 3 meteran yang menewaskan sekitar  117 orang dan ratusan lainnya hilang. Dan yang lagi heboh adalah gunung Merapi di sekitar wilayah Jogjakarta yang sudah berhari-hari di pantau menyemburkan isi perutnya dan membuat blingsatan warga secara serentak bahkan akhirnya menelan korban jiwa masyarakat yang sudah berhari-hari dihimbau pihak berwenang untuk mengungsi. Korban Merapi ini, yang salah satu diantaranya diduga Mbah Marijan Sang Kuncen Merapi, nampak mengenaskan karena terperangkap dalam situasi yang sebenarnya sudah beberapa hari sebelumnya disiarkan di berbagai media  bisa mungkin terjadi.

Bencana-bencana itu sebenarnya memang sesuatu yang sudah dipantau bakal terjadi. Kecuali di beberapa wilayah seperti Wasior yang nampaknya lolos dari pantauan. Anehnya, meski sudah diimbau waspada,  toh tetap saja banyak masyarakat yang panik, grasa-grusu, ngomel, mengeluh dan akhirnya melontarkan ketidakpuasannya dengan kinerja pemerintah kita dewasa ini.

Satu hal yang menarik dari fenomena bencana tersebut nampaknya adalah lemahnya kinerja pemerintah dalam aspek Environmental Management System (EMS). Selain itu,  tidak adanya program kontinu yang melibatkan warga masyarakat yang berkaitan dengan aspek-aspek pengelolaan dan perawatan lingkungan sekitar. Kalaupun ada , rasanya tidak ada promosi sehingga masyarakatpun sama sekali buta tentang hal-hal yang berkaitan dengan EMS. Padahal sudah beberapa tahun ini ada program-program EMS dan perawatan kontinu yang disebut Corrective Preventive Action Report/Request , Corporate Responsibilities, dll. yang dijalankan oleh pihak swasta (maupun pemerintah?) guna meningkatkan kinerja pelayanan kepada masyarakat yang sifatnya sistemik. Baik sistem itu bersifat alami seperti lingkungan / wilayah kota yang sering banjir, maupun sistem buatan misalnya perawatan gedung, jalan tol, dll.

Belum lama ini saya membantu salah satu pengelola jalan tol untuk membuat aplikasi yang dapat  mendukung program CPAR-nya. Tentu saja aplikasi itu cuma alat bantu guna menampung keluhan pelanggan yang kelak nanti ditindaklanjuti oleh tim CPAR perusahaan tersebut.

Sistem semacam ini sebenarnya bisa diterapkan di banyak organisasi maupun bidang. Tidak terkecuali pengelolaan kota atau lingkungan secara umum yang sifatnya kontinu. Kota Jakarta yang setiap tahun banjir mestinya sudah memiliki tim ataupun program semacam CPAR yang dikelola dan dijalankan dengan istiqomah, dipromosikan dan dapat diakses oleh umum supaya masyarakat tahu. Karena tanpa keistiqomahan dan dukungan warga sebagai pihak yang langsung terlibat dalam program EMS, sebaik apapun suatu program dibuat tidak akan berhasil mencapai tujuan yang diinginkan.

Program CPAR-EMS dapat digunakan sebagai tolok ukur kerjasama kinerja pemerintah/perusahaan dengan masyarakat dalam mengola wilayahnya. Sayang sekali kalau Pemda atau pun pihak yang wajib bertanggung jawab atas lingkungan sekitar mengabaikan sistem semacam EMS ini. Padahal manfaatnya berkesinambungan , dinikmati bersama, dan dapat meningkatkan awareness pemerintah/karyawan/warga secara bahu membahu.

Rujukan mengenai EMS  http://www.peercenter.net . Untuk CPAR, lihat disini

Tulisan ini aslinya diposting di situs rintisan bernama  Linkari.com , ditulis oleh Atmonadi.com, WNIndonesia aseli, lahir di Cirebon makanya hobi makan tahu gejrot, empal gentong, mie kocok, dan lontong sayur ayam (yummi…;P). Lulusan institut  yang pernah dianggap terbaik di negeri ini  tapi sering dianggap agak tersesat dan salah jurusan. Sekarang berprofesi sebagai Ronin dengan peran sebagai advisor, konsultan sekaligus pengembang  aplikasi web base dan dagang kaos cetak on-demand  dengan Direct To Garment Printing – mereknya Okepunya.Com . Kontak cepat SMS ke 08176720808 (khusus buat yang mau bikin aplikasi web dengan PHP, CI-Framework , WAMP/LAMP Environtment atau buat yang mau bikin kaos digital  aja)

SocialTwist Tell-a-Friend